Studi ini meneliti kepemimpinan kolaboratif dalam pengelolaan infrastruktur pendidikan dari perspektif sistem. Dengan menggunakan studi kasus eksploratif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa komunikasi, koordinasi, partisipasi, dan pemanfaatan infrastruktur ada tetapi tidak terintegrasi secara sistemik. Studi ini mengidentifikasi kesenjangan kapasitas kolaboratif di empat dimensi: komunikasi beroperasi sebagai transmisi informasi tanpa koordinasi, koordinasi mencerminkan ambiguitas dan fragmentasi peran, partisipasi tetap formal daripada substantif, dan pemanfaatan infrastruktur menunjukkan ketidaksesuaian antara perencanaan dan praktik. Kesenjangan yang saling terkait ini menghasilkan sistem tata kelola yang terfragmentasi yang membatasi efektivitas pengelolaan infrastruktur. Studi ini berkontribusi pada literatur tata kelola kolaboratif dengan menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan bergantung pada keselarasan sistem daripada kapasitas individu. Studi ini menyoroti bahwa peningkatan pengelolaan infrastruktur pendidikan membutuhkan penguatan integrasi sistemik di antara aktor, peran, dan proses.
Copyrights © 2026