The kilala ritual is a spiritual activity (divination) used to obtain insights into events related to the past and the future, whether they are considered positive or negative. This study aims to examine the symbolic meanings and moral values contained in the kilala ritual within the household life of the Cia-Cia community in Buton. This research employed a descriptive qualitative method with Clifford Geertz’s symbolic interpretivism approach as the theoretical framework to analyze the research problem. Data analysis was conducted using the Miles, Huberman, and Saldana model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the kilala ritual is carried out through several stages, namely tracing the root of the problem by the pande kilala, the disclosure of emotional wounds by husband and wife, and the presentation of offerings as a medium of prayer and respect for aka. The symbolic meanings of this ritual are reflected in various offering elements such as incense, rice, coins, betel leaves, lime, tobacco, eggs, and fish, which symbolize purity, openness, responsibility, balance, prosperity, and spiritual interconnectedness. The moral values contained in the kilala ritual include self-awareness, openness, responsibility, forgiveness, trustworthiness, and household harmony. Therefore, the kilala ritual is not only interpreted as a spiritual tradition but also functions as a medium of moral learning and family relationship restoration in the life of the Cia-Cia community in Buton. ABSTRAK Ritual kilala merupakan aktivitas spiritual (meramal) yang digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai peristiwa yang berkaitan dengan masa lalu maupun masa depan, baik yang bersifat baik maupun buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolik serta nilai-nilai moral yang terkandung dalam ritual kilala pada kehidupan rumah tangga masyarakat Cia-Cia di Buton. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori Clifford Geertz mengenai symbol, yaitu interpretisme simbolik untuk membedah masalah penelitian. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual kilala dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu penelusuran akar persoalan oleh pande kilala, pengungkapan luka batin oleh pasangan suami istri, serta penyajian sesajen sebagai sarana doa dan penghormatan kepada aka. Makna simbolik dalam ritual ini tercermin pada berbagai unsur sesajen seperti kemenyan, beras, uang logam, daun sirih, kapur, tembakau, telur, dan ikan yang melambangkan kesucian, keterbukaan, tanggung jawab, keseimbangan, kesejahteraan, dan keterhubungan spiritual. Nilai-nilai moral yang terkandung dalam ritual kilala meliputi kesadaran diri, keterbukaan, tanggung jawab, sikap saling memaafkan, amanah, dan keharmonisan rumah tangga. Dengan demikian, ritual kilala tidak hanya dimaknai sebagai tradisi spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran moral dan pemulihan hubungan keluarga dalam kehidupan masyarakat Cia-Cia di Buton.
Copyrights © 2026