Lisna Lisna
Universitas Muhammadiyah Malang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MAKNA SIMBOLIK DAN NILAI-NILAI MORAL DALAM RITUAL KILALA PADA KEHIDUPAN RUMAH TANGGA MASYARAKAT CIA-CIA BUTON Lisna Lisna; Daroe Iswatiningsih; Harun Harun; Nuryeni Nuryeni
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11794

Abstract

The kilala ritual is a spiritual activity (divination) used to obtain insights into events related to the past and the future, whether they are considered positive or negative. This study aims to examine the symbolic meanings and moral values contained in the kilala ritual within the household life of the Cia-Cia community in Buton. This research employed a descriptive qualitative method with Clifford Geertz’s symbolic interpretivism approach as the theoretical framework to analyze the research problem. Data analysis was conducted using the Miles, Huberman, and Saldana model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the kilala ritual is carried out through several stages, namely tracing the root of the problem by the pande kilala, the disclosure of emotional wounds by husband and wife, and the presentation of offerings as a medium of prayer and respect for aka. The symbolic meanings of this ritual are reflected in various offering elements such as incense, rice, coins, betel leaves, lime, tobacco, eggs, and fish, which symbolize purity, openness, responsibility, balance, prosperity, and spiritual interconnectedness. The moral values contained in the kilala ritual include self-awareness, openness, responsibility, forgiveness, trustworthiness, and household harmony. Therefore, the kilala ritual is not only interpreted as a spiritual tradition but also functions as a medium of moral learning and family relationship restoration in the life of the Cia-Cia community in Buton. ABSTRAK Ritual kilala merupakan aktivitas spiritual (meramal) yang digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai peristiwa yang berkaitan dengan masa lalu maupun masa depan, baik yang bersifat baik maupun buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolik serta nilai-nilai moral yang terkandung dalam ritual kilala pada kehidupan rumah tangga masyarakat Cia-Cia di Buton. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori Clifford Geertz mengenai symbol, yaitu interpretisme simbolik untuk membedah masalah penelitian. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual kilala dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu penelusuran akar persoalan oleh pande kilala, pengungkapan luka batin oleh pasangan suami istri, serta penyajian sesajen sebagai sarana doa dan penghormatan kepada aka. Makna simbolik dalam ritual ini tercermin pada berbagai unsur sesajen seperti kemenyan, beras, uang logam, daun sirih, kapur, tembakau, telur, dan ikan yang melambangkan kesucian, keterbukaan, tanggung jawab, keseimbangan, kesejahteraan, dan keterhubungan spiritual. Nilai-nilai moral yang terkandung dalam ritual kilala meliputi kesadaran diri, keterbukaan, tanggung jawab, sikap saling memaafkan, amanah, dan keharmonisan rumah tangga. Dengan demikian, ritual kilala tidak hanya dimaknai sebagai tradisi spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran moral dan pemulihan hubungan keluarga dalam kehidupan masyarakat Cia-Cia di Buton.    
STRATEGI KOMUNIKASI EMOTIF DALAM TUTURAN DAKWAH USTAZ HILMAN AL FAUZI: KAJIAN SOSIOPRAGMATIK Lisna Lisna; Hari Windu Asrini
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.14518

Abstract

The digital media transformation encourages preachers to package religious lectures emotively to build social and emotional closeness with the audience. This descriptive qualitative study using a sociopragmatic approach aimed to describe Ustaz Hilman Al Fauzi's emotive communication strategies on the Taubat Nasuha YouTube channel and explain how speech contexts influence their usage. Data were gathered through non-participatory observation, verbatim transcription, and note-taking, then analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña interactive model grounded in Aristotelian rhetoric, Searle's speech acts, and Hymes' SPEAKING model. Results identified six primary emotive communication strategies: instilling hope, fostering reassurance, providing spiritual motivation, strengthening religious conviction, employing life analogies, and incorporating textual legitimacy from the Qur'an and Hadith. These strategies integrate psychological and religious reinforcement through a synthesis of ethos, pathos, and logos. The main conclusion confirms that digital preaching effectiveness depends heavily on the preacher's skill in aligning emotive language choices with the audience's social context and emotional state. ABSTRAK Transformasi media digital mendorong pendakwah mengemas ceramah keagamaan secara emotif untuk membangun kedekatan hubungan sosial dan emosional dengan audiens. Penelitian kualitatif deskriptif berpendekatan sosiopragmatik ini bertujuan mendeskripsikan strategi komunikasi emotif Ustaz Hilman Al Fauzi pada kanal YouTube Taubat Nasuha serta pengaruh konteks tuturan terhadap penggunaannya. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak bebas libat cakap, transkripsi verbatim, dan pencatatan, yang dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña dengan landasan retorika Aristoteles, tindak tutur Searle, serta komponen tutur Hymes. Hasil penelitian menemukan enam strategi komunikasi emotif utama, meliputi membangun harapan, menumbuhkan ketenangan, memberikan motivasi spiritual, memperkuat keyakinan religius, menggunakan analogi kehidupan, serta menyertakan legitimasi dalil Al-Qur'an dan hadis. Strategi tersebut terintegrasi ke dalam dimensi penguatan psikologis dan religius melalui perpaduan ethos, pathos, dan logos. Simpulan utama menegaskan bahwa efektivitas dakwah digital sangat ditentukan oleh kejelian pendakwah dalam menyelaraskan pilihan strategi bahasa emotif dengan konteks sosial dan kondisi emosional jamaah.