ABSTRACT The Kahar Muzakkar movement in South Sulawesi was not only part of Indonesia’s post-independence political history but also left a legacy of memory that continues to live within society through various forms of social transmission. This study aims to analyze how collective memory regarding the Kahar Muzakkar movement is constructed, maintained, and interpreted in the social life of the people of South Sulawesi. The research employed a qualitative approach using the oral history method. Data were collected through in-depth interviews with five informants selected purposively based on their direct experiences or knowledge acquired through inherited stories about the Kahar Muzakkar movement, supported by relevant historical documents and literature. The data were analyzed descriptively and interpretively through data reduction, thematic categorization, and meaning interpretation to identify patterns in the formation of collective memory. The findings reveal that collective memory is preserved through three main channels: oral narratives within families, historical knowledge obtained through education and literature, and socio-political discourses circulating within society. The inherited memories are dominated by emotional aspects, particularly feelings of fear, insecurity, and social uncertainty, rather than detailed ideological understandings of the movement. Beyond functioning as a repository of historical experiences, collective memory also shapes how communities interpret conflict, power, and social identity. This study concludes that memories of the Kahar Muzakkar movement continue to be reproduced through intergenerational interactions and play an important role in shaping historical consciousness and social identity, while also serving as a reminder of the importance of national unity and peaceful conflict resolution. ABSTRAK Konflik gerakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan tidak hanya menjadi bagian dari sejarah politik Indonesia pascakemerdekaan, tetapi juga meninggalkan jejak memori yang terus hidup dalam masyarakat melalui berbagai bentuk pewarisan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana memori kolektif masyarakat mengenai gerakan Kahar Muzakkar terbentuk, dipertahankan, dan dimaknai dalam kehidupan sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah lisan (oral history). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap lima informan yang dipilih secara purposive berdasarkan pengalaman langsung maupun pengetahuan yang diperoleh melalui pewarisan cerita mengenai gerakan Kahar Muzakkar, serta didukung oleh kajian literatur dan dokumentasi sejarah yang relevan. Data dianalisis secara deskriptif-interpretatif melalui proses reduksi data, kategorisasi tema, dan penafsiran makna untuk mengidentifikasi pola pembentukan memori kolektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memori kolektif masyarakat dipertahankan melalui tiga saluran utama, yaitu cerita lisan dalam keluarga, pengetahuan sejarah yang diperoleh dari pendidikan dan literatur, serta diskursus sosial-politik yang berkembang di masyarakat. Ingatan yang diwariskan lebih didominasi oleh aspek emosional berupa rasa takut, ketidakamanan, dan ketidakpastian sosial dibandingkan pemahaman ideologis mengenai gerakan tersebut. Selain berfungsi sebagai penyimpan pengalaman sejarah, memori kolektif juga membentuk cara masyarakat memaknai konflik, kekuasaan, dan identitas sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa memori mengenai gerakan Kahar Muzakkar terus direproduksi melalui interaksi antargenerasi dan berperan dalam membentuk kesadaran sejarah serta identitas sosial masyarakat, sekaligus menjadi pengingat pentingnya persatuan nasional dan penyelesaian konflik secara damai.
Copyrights © 2026