Penerapan Kurikulum Merdeka melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) membawa perubahan pola interaksi sosial antara siswa dan guru di SMAN 1 Solok Selatan. Sebelum P5 dilaksanakan, interaksi sosial di sekolah berlangsung secara terbatas, bersifat formal, dan hanya terjadi saat proses belajar mengajar. Pelaksanaan P5 di SMAN 1 Solok Selatan mulai memberikan ruang bagi siswa dan guru untuk membangun komunikasi yang lebih kolaboratif, aktif, dan bermakna melalui kegiatan proyek. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi pola interaksi sosial antara siswa dan guru dalam kegiatan P5. Hal ini menarik untuk diteliti karena perubahan satuan pendidikan melalui penerapan Kurikulum Merdeka, Khususnya dalam kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yang menekankan kolaborasi dan pembentukan karakter siswa serta interaksi siswa dan guru. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan tipe penelitian kualitatif dan pendekatan deskriptif. Kemudian penelitian ini dianalisis menggunakan teori Teori Struktural Fungsional yang dikemukakan oleh Talcott Parsons yang mana teori ini menjelaskan bahwa masyarakat sebagai suatu sistem sosial yang tersusun atas bagian-bagian atau struktur yang saling berkaitan dan saling bergantung. Langkah penelitian menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah informan sebanyak 13 orang, dengan karakteristik informan yaitu, kepala sekolah, wakil kurikulum, wakil kesiswaan, guru, dan siswa dalam P5. Teknik analisis data dilakukan dengan skema Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P5 mampu menciptakan perubahan mendasar pada hubungan sosial antara siswa dan guru. Siswa mengalami pembentukan diri (self) yaitu melalui interaksi sosial, mengembangkan kemampuan role talking (pengambilan peran), serta menginternalisasikan nilai-nilai sosial melalui generalized other.
Copyrights © 2026