Artikel ini mengkaji dan mengomparasi konsep pendidikan anak menurut perspektif Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dan Ibnu Miskawaih, serta menganalisis relevansinya terhadap tantangan pendidikan karakter di era modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif-analitis dan komparatif. Sumber data primer adalah Kitab Tuhfat al-Maudud bi Ahkam al-Maulud karya Ibnu Qayyim (Dar Ibn Hazm, 2019) dan Kitab Tahdzib al-Akhlaq wa Tathhir al-A'raq karya Ibnu Miskawaih (Beirut, 2005), yang dilengkapi dengan literatur sekunder berupa artikel jurnal dan buku-buku terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menitikberatkan pendidikan anak pada pendekatan teosentris, yakni pengembangan fitrah, pembiasaan ibadah, pembentukan akhlak, dan keteladanan orang tua sejak fase pra-natal. Sementara itu, Ibnu Miskawaih menekankan pendekatan antroposentris-filosofis yang berfokus pada penyeimbangan tiga daya jiwa manusia—daya pikir (al-quwwah al-natiqah), daya emosi (al-quwwah al-ghadhabiyah), dan daya keinginan (al-quwwah al-syahwiyah)—melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengendalian diri secara rasional. Meskipun berasal dari tradisi keilmuan yang berbeda—tasawuf-teologis dan filsafat etika—kedua tokoh memiliki titik temu yang kuat pada pentingnya pembiasaan, keteladanan, dan peran lingkungan dalam pembentukan karakter anak. Konsep mereka sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan karakter kontemporer dalam mengatasi krisis moral di kalangan generasi muda.
Copyrights © 2026