Stunting masih menjadi masalah kesehatan serius di Kabupaten Sorong dengan prevalensi 29,7%, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Praktik perkawinan anak yang tinggi di masyarakat kokoda, dipengaruhi budaya, ekonomi, dan rendahnya literasi kesehatan, berdampak pada kesiapan ibu dan meningkatkan risiko stunting pada anak. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan keluarga dan remaja terkait risiko perkawinan anak melalui edukasi berbasis keluarga dengan pendekatan budaya Kokoda. Kegiatan dilaksanakan di Kampung Maibo, Distrik Aimas, melalui tahapan koordinasi, focus group discussion (FGD), pre-test, edukasi terpadu tentang kesehatan reproduksi remaja, bahaya perkawinan anak, serta gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), dan diakhiri dengan post-test. Hasil menunjukkan bahwa sebelum edukasi, 77,3% peserta memiliki pengetahuan kurang. Setelah intervensi, terjadi peningkatan pengetahuan, dengan 59,1% peserta memiliki pengetahuan baik dan 40,9% cukup, serta tidak terdapat peserta dengan pengetahuan kurang Keterlibatan tokoh adat Moi memperkuat penerimaan informasi. Kesimpulan, Edukasi berbasis keluarga dengan pendekatan budaya lokal efektif meningkatkan pengetahuan mengenai risiko perkawinan anak dan pencegahan stunting, serta dapat dijadikan model intervensi di komunitas adat.
Copyrights © 2026