Riset tentang kemiskinan dan pendidikan di Indonesia telah berlangsung cukup panjang, namun hampir selalu bergerak di jalurnya masing-masing: sebagian mengukur pengaruh pendidikan terhadap penurunan kemiskinan, sebagian menelusuri determinan putus sekolah, dan sebagian lagi mendokumentasikan ketimpangan kualitas antardaerah. Kajian yang secara eksplisit menyatukan kelima dimensi dampak — partisipasi, risiko putus sekolah, kualitas pendidikan, kesenjangan antarwilayah, dan kesenjangan digital — dalam satu kerangka analitis yang menunjukkan bagaimana dimensi-dimensi itu bekerja saling memperkuat, belum tersedia dalam literatur Indonesia. Kajian ini mengisi celah tersebut melalui tinjauan literatur sistematis terhadap 28 artikel ilmiah yang dipublikasikan antara 2015 dan 2025 dari Google Scholar, SINTA, Garuda, dan DOAJ. Tingkat kemiskinan nasional sebesar 9,03% atau setara 25,22 juta jiwa berkorelasi langsung dengan pola partisipasi pendidikan yang menyusut dari Angka Partisipasi Kasar SD 104,76% hingga hanya 84,13% di SMA — selisih yang mencerminkan penyaringan ekonomi yang berlangsung jauh sebelum ujian akhir. Argumen sentral kajian ini adalah bahwa kemiskinan tidak bekerja sebagai hambatan tunggal melainkan melalui pola compounding disadvantage, di mana setiap dimensi memperburuk dimensi lainnya, sehingga intervensi parsial tidak akan pernah cukup untuk memutus mekanisme itu.
Copyrights © 2026