Perkembangan teknologi informasi telah mempercepat pertukaran pesan, namun tidak selalu meningkatkan kualitas pemahaman. Fenomena misinformasi, konflik digital, polarisasi sosial, serta kegagalan komunikasi interpersonal menunjukkan bahwa persoalan komunikasi bukan semata persoalan transmisi pesan, melainkan persoalan relasi makna. Model komunikasi klasik Shannon & Weaver menekankan akurasi pengiriman pesan, sedangkan teori komunikasi transaksional menekankan pembentukan makna bersama. Namun kedua pendekatan tersebut masih menempatkan komunikasi sebagai aktivitas yang dapat dikendalikan oleh pelaku komunikasi. Adanya Dominasi yang lebih superior dari pengirim pesan membuka paradigma baru. Filsafat Tao menawarkan perspektif berbeda: realitas bukan dikendalikan, tetapi diseimbangkan. Tao memandang harmoni sebagai kondisi alami yang muncul ketika unsur-unsur tidak saling memaksakan diri. Jika diterapkan pada komunikasi, pemahaman tidak dihasilkan dari dominasi pesan, melainkan dari keselarasan relasional antara komunikator dan komunikan. Metode yang digunakan adalah studi Literatur. Jika Aristoteles melihat komunikasi sebagai seni persuasi, dan Jürgen Habermas melihatnya sebagai rasionalitas dialogis, maka Laozi, melalui Tao Komunikasi, menawarkan sesuatu yang belum pernah diformulasikan dalam teori komunikasi modern, yaitu Komunikasi sebagai seni menjaga keharmonisan makna dalam relasi secara bersama-sama.
Copyrights © 2026