Kelompok Wanita Nelayan (KWN) Fatimah Azzahra menghadapi tantangan kritis berupa: rendahnya literasi pemasaran digital yang membatasi ekspansi pasar dan teknik pengemasan konvensional (plastik mika non-vakum) yang memperpendek umur simpan produk. Masalah ini menyebabkan produk olahan ikan seperti otak-otak dan bandeng tanpa duri kalah bersaing di pasar modern, meskipun kualitasnya telah diakui konsumen. Kegiatan pengabdian ini mengkombinasikan: 1) Pelatihan digital marketing berbasis prinsip Islam (foto produk, etika promosi di media sosial), dan 2) Pengenalan teknologi pengemasan vakum dengan alat vacuum-sealer dan material LDPE/aluminium foil untuk memperpanjang masa simpan. Metode partisipatif (CBPR) diterapkan melalui tiga tahap: pra-survei, pelatihan langsung, dan evaluasi berbasis indikator prinsip Islam (kejujuran, tanggung jawab, hukum haram, daya tarik). Hasil pengabdian menunjukkan bahwa terdapat: 1) Peningkatan keterampilan digital: 90% peserta mampu memotret produk dengan pencahayaan dan komposisi yang layak promosi 2) 100% peserta berhasil mengoperasikan alat vakum, dengan peningkatan ketahanan produk hingga 2× lipat, 3) Kepatuhan terhadap prinsip Islam ditunjukkan dengan skor kuesioner yang menunjukkan penerapan prinsip kejujuran (81%), tanggung jawab (70%), dan penghindaran riba (75%). Namun, 12% peserta masih menggunakan nama produk "unik" yang bertentangan dengan syariat, memerlukan pendampingan lanjutan. Integrasi prinsip syariat dalam pemasaran dan pengemasan tidak hanya meningkatkan daya saing produk tetapi juga membangun kepercayaan konsumen. Keberlanjutan program direkomendasikan melalui pendampingan sertifikasi halal dan kolaborasi dengan platform e-commerce syariah.
Copyrights © 2026