Penurunan fungsi paru merupakan proses yang berlangsung secara gradual dan sering kali tidak terdeteksi pada populasi umum, terutama pada usia dewasa hingga lanjut. Kondisi ini dapat berdampak pada kapasitas fungsional, toleransi aktivitas, serta meningkatkan risiko penyakit respirasi kronis. Oleh karena itu, skrining fungsi paru berbasis komunitas menjadi penting sebagai bagian dari strategi promotif dan preventif untuk mengidentifikasi gangguan ventilasi sejak dini. egiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan menggunakan pendekatan manajemen mutu Plan–Do–Check–Act (PDCA) pada 98 partisipan dewasa. Tahap Plan mencakup identifikasi kebutuhan skrining dan perencanaan kegiatan; tahap Do berupa pemeriksaan fungsi paru menggunakan spirometri, disertai edukasi kesehatan; tahap Check meliputi evaluasi hasil berdasarkan nilai rujukan untuk mengidentifikasi gangguan ventilasi; dan tahap Act berupa pemberian konseling serta rekomendasi tindak lanjut. Rerata usia partisipan adalah 43,67±12,40 tahun dengan dominasi perempuan (64,3%). Rerata nilai FVC tercatat sebesar 67,07±25,01%, dengan mayoritas peserta berada dalam kategori menurun (67,4%), yang mengindikasikan adanya penurunan kapasitas paru. Rerata FEV₁ sebesar 86,19±2,70% dengan 64,3% partisipan mengalami penurunan. Sementara itu, rasio FEV₁/FVC memiliki rerata 1,51±0,70 dan sebagian besar berada dalam kategori normal (95,9%). Pola ini menunjukkan kecenderungan gangguan ventilasi tipe restriktif. Distribusi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan rasio FEV₁/FVC yang bersifat heterogenitas fungsi paru antar individu. Skrining fungsi paru berbasis komunitas cukup efektif dalam mengidentifikasi penurunan fungsi paru yang bersifat subklinis, terutama dengan pola restriktif. Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini serta intervensi promotif-preventif melalui edukasi dan pengendalian faktor risiko untuk mencegah progresivitas gangguan respirasi pada populasi dewasa.
Copyrights © 2026