Pembelajaran IPA di sekolah dasar memiliki peran penting dalam mengembangkan literasi sains dan kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Namun, konsep-konsep IPA yang bersifat abstrak, seperti pembiasan cahaya, sering kali sulit dipahami apabila diajarkan melalui pendekatan konvensional. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan pengetahuan budaya lokal ke dalam pembelajaran melalui model Problem Based Learning (PBL) berbasis etnosains. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi PBL berbasis etnosains pada materi pembiasan cahaya di SD YPK Betfage Kabare, Raja Ampat, serta mengkaji kontribusinya terhadap pemahaman konsep, apresiasi budaya lokal, dan kepedulian lingkungan peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru IPA, dan murid yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi tradisi balobe dalam pembelajaran berhasil menghubungkan pengalaman keseharian murid dengan konsep ilmiah pembiasan cahaya. Penerapan PBL mendorong keterlibatan aktif murid dalam penyelidikan, diskusi, dan pemecahan masalah. Selain meningkatkan pemahaman konsep IPA, pembelajaran juga memperkuat apresiasi terhadap budaya lokal dan menumbuhkan kesadaran untuk menjaga lingkungan pesisir. Penelitian ini menyimpulkan bahwa PBL berbasis etnosains merupakan pendekatan pembelajaran yang efektif, kontekstual, dan relevan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA sekaligus mendukung pelestarian kearifan lokal di sekolah dasar.
Copyrights © 2026