Seleksi penerima beasiswa di SMKS Laboratorium Indonesia masih menghadapi risiko subjektivitas, kurangnya transparansi, dan pengolahan data yang belum terstruktur. Penelitian ini bertujuan membangun sistem pendukung keputusan berbasis website serta membandingkan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Data dikumpulkan melalui observasi, survei, wawancara, dan studi pustaka, sedangkan pengembangan sistem menggunakan model waterfall. Empat kriteria yang digunakan ialah nilai akademik, kehadiran, ekonomi orang tua, dan sikap/disiplin. Hasil AHP menempatkan Dinda Lestari pada peringkat pertama dengan nilai 0,2121, sementara TOPSIS menempatkan Andi Pratama pada peringkat pertama dengan nilai preferensi 0,8410. Tiga dari lima alternatif menghasilkan peringkat yang sama dan dua alternatif berbeda pada posisi teratas. Pengujian black box menunjukkan seluruh fungsi utama berjalan sesuai kebutuhan, pengujian white box menghasilkan 10 jalur independen yang dapat dijalankan, dan pengujian respons pengguna memperoleh kelayakan 93,23%. Berdasarkan karakteristik perhitungan, TOPSIS lebih sesuai untuk perangkingan calon penerima beasiswa karena mempertimbangkan solusi ideal positif dan negatif serta menghasilkan nilai preferensi yang mudah diinterpretasikan.
Copyrights © 2026