Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diselenggarakan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia sejak Januari 2025 memiliki potensi untuk menghasilkan hingga 800 ton sampah organik secara nasional setiap hari. Limbah kulit buah Cucurbitaceae (semangka, melon, timun) dari 127 unit harian MBG di SD Inpres Perumputan, Kabupaten Bantaeng dibiarkan menumpuk tanpa pengelolaan yang optimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan program yang mendukung penerapan inovasi BIOCUBIT (Bio-Liquid for Cucurbitaceae Integrated Technology) sebagai upaya untuk meningkatkan pengelolaan limbah MBG, serta memperkuat karakter kepedulian siswa terhadap lingkungan. BIOCUBIT diperoleh melalui 6 tahap biofermentasi dengan bioaktivator EM4 dan Trichoderma sp selama 7–14 hari. Metode ini mencakup sosialisasi, pelatihan PPL untuk guru, pembentukan Tim Piket BIOCUBIT untuk siswa kelas 4 hingga 6, dan integrasi ke kegiatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sesuai Kurikulum Merdeka. Penelitian ini melibatkan 127 siswa dari Januari hingga Mei 2026. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa 74,3% (N-gain = 0,58, kategori sedang; Cronbach’s alpha = 0,84), peningkatan skor perilaku peduli lingkungan siswa 81,2% (Uji Wilcoxon Z = -6,83, p = 0,001), dan peningkatan pertumbuhan tanaman kebun sekolah 39,3% dibandingkan kontrol (t = 4,82, p = 0,000). Siklus berkelanjutan dari limbah MBG, fermentasi, pupuk cair, tanaman sehat, dan lingkungan lestari telah ditunjukkan untuk berfungsi dengan baik dalam ekosistem pembelajaran sekolah dasar.
Copyrights © 2026