Rezim Orde Baru, perempuan dibatasi perannya dalam ruang domestik melalui ideologi negara seperti "State Ibuism" yang menguatkan citra perempuan sebagai istri dan ibu yang patuh. Namun, dalam keterbatasan tersebut, perempuan justru melakukan resistensi melalui strategi halus yang tidak frontal, memanfaatkan bahasa, komunitas sosial, dan kepemimpinan alternatif sebagai alat perjuangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus historis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif terbatas, dan studi dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa perempuan memanfaatkan bahasa sebagai alat resistensi simbolik, membentuk identitas resistif, serta menciptakan wacana tandingan terhadap narasi negara yang menindas. Mereka juga menggunakan media sosial, seni, dan jaringan komunitas untuk memperjuangkan hak, menyuarakan pengalaman yang disenyapkan, dan mendorong perubahan sosial secara kultural. Bahasa dan komunikasi terbukti menjadi alat penting dalam memperluas ruang kuasa perempuan dan membongkar norma patriarki yang mengekang.
Copyrights © 2026