Menurut WHO, prevalensi gangguan mental pada ibu hamil sekitar 10% dan ibu pascamelahirkan 13%, sementara di negara berkembang angkanya lebih tinggi masing-masing 15,6% dan 19,8%. Di Asia, prevalensi depresi pascamelahirkan bervariasi antara 26–85%. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi pascamelahirkan mencapai 1,8% dengan 314.671 kasus pada wanita usia subur 10-54 tahun di seluruh Indonesia. Postpartum blues yang tidak ditangani berpotensi menjadi depresi postpartum yang lebih serius. Peran keluarga, terutama suami, sangat penting dalam mendukung adaptasi ibu nifas. Peningkatan pengetahuan keluarga melalui edukasi menggunakan modul pendidikan keluarga merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan. Metode penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kuantitatif dengan desain Quasi Experimental menggunakan pendekatan Pretest-Posttest with Control Group Design. Dengan sampel penelitian yaitu ibu nifas dan suami sebanyak 30 orang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p=0,001). Kelompok yang memperoleh modul pendidikan keluarga memiliki skor depresi postpartum lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Dari hasil penelitian juga menunjukkan sebagian besar ibu nifas pada kelompok intervensi berada pada kategori risiko rendah depresi postpartum (80,0%), sedangkan pada kelompok kontrol masih ditemukan 26,7% responden dengan risiko tinggi depresi postpartum. Pemberian modul pendidikan keluarga tentang dukungan psikologis ibu nifas terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai dukungan psikologis ibu nifas, dukungan keluarga terhadap ibu nifas dan menurunkan risiko depresi postpartum pada ibu nifas
Copyrights © 2026