Fenomena grey divorce menunjukkan perubahan dinamika keluarga, khususnya relasi antara orang tua dan anak dewasa. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola komunikasi keluarga pada orang tua yang mengalami grey divorce dalam membangun kualitas relasi dengan anak dewasa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap orang tua berusia di atas 50 tahun yang telah bercerai serta anak dewasa mereka. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan empat pola komunikasi keluarga, yaitu konsensual, pluralistik, protektif, dan laissez-faire. Pola pluralistik dan konsensual cenderung membangun kualitas relasi yang lebih baik karena ditandai keterbukaan, komunikasi dua arah, pengakuan emosional, dan pengelolaan konflik. Sebaliknya, pola protektif dan laissez-faire menunjukkan kualitas relasi yang lebih lemah karena membatasi partisipasi anak, mengurangi kedekatan emosional, atau membuat perubahan keluarga tidak dibicarakan secara mendalam. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi yang terbuka, partisipatif, dan suportif menjadi kunci dalam menjaga relasi orang tua dan anak dewasa pascaperceraian usia lanjut.
Copyrights © 2026