Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Strategi Komunikasi Lintas Budaya Konsultan Public Relations Perusahaan Minyak Dan Gas Bumi Dalam Menghadapi Perbedaan Budaya Pada Pelaksanaan Program Corporate Social Responsibility Tikka Muslimah
Jurnal Politikom Indonesiana Vol 8 No 1 (2023): Jurnal Politikom Indonesiana
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/jpi.v8i1.9520

Abstract

Aktivitas public relation pada sebuah perusahaan dapat dilakukan oleh konsultan public relation. Konsultan public relations memiliki tugas dan fungsi yang sama dengan public relations dari sebuah divisi suatu perusahaan. Perusahaan minyak dan gas bumi miliki pemerintah di Indonesia juga menggunakan konsultan public relations yang difokuskan dalam pelaksanaan program CSR. Meskipun menggunakan konsultan public relations, perusahaan minyak dan gas bumi ini banyak mendapatkan penghargaan atas prestasinya dalam bidang CSR. Proses implementasi program, konsultan public relations menghadapi perbedaan budaya dari berbagai wilayah yang menjadi target program. Tetapi konsultan public relations harus memiliki startegi dalam menghadapi perbedaan tersebut. Penelitian ini mengguanakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa setiap wilayah memiliki kendala budaya yang berbeda. Teradapat perbedaan karakteristik antara masyarakat Jawa dan Papua sebagai penerima program CSR. Sehingga konsultan public relations harus menyesuaikan cara mengkomunikasikan suatu program yaitu secara Low Context atau High Context. Selain itu pendekatan public relation yang digunakan oleh praktisi CSR adalah pendekatan kerjasama. Kata kunci: Corporate Social Responsibility, komunikasi lintas budaya, konsultan public relations
Pola Komunikasi Orang Tua Grey Divorce dalam Membangun Kualitas Relasi dengan Anak Dewasanya Alvina Evelyna Desta; Tri Susanto; Tikka Muslimah
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/qr9hhv91

Abstract

Fenomena grey divorce menunjukkan perubahan dinamika keluarga, khususnya relasi antara orang tua dan anak dewasa. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola komunikasi keluarga pada orang tua yang mengalami grey divorce dalam membangun kualitas relasi dengan anak dewasa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap orang tua berusia di atas 50 tahun yang telah bercerai serta anak dewasa mereka. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan empat pola komunikasi keluarga, yaitu konsensual, pluralistik, protektif, dan laissez-faire. Pola pluralistik dan konsensual cenderung membangun kualitas relasi yang lebih baik karena ditandai keterbukaan, komunikasi dua arah, pengakuan emosional, dan pengelolaan konflik. Sebaliknya, pola protektif dan laissez-faire menunjukkan kualitas relasi yang lebih lemah karena membatasi partisipasi anak, mengurangi kedekatan emosional, atau membuat perubahan keluarga tidak dibicarakan secara mendalam. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi yang terbuka, partisipatif, dan suportif menjadi kunci dalam menjaga relasi orang tua dan anak dewasa pascaperceraian usia lanjut.
Improving the Image of Local Government with Leadership Communication Strategies: A Review of Karawang Protocol Angga Septiano Nugroho; Rastri Kusumaningrum; Tikka Muslimah
Neo Journal of economy and social humanities Vol 4 No 2 (2025): Neo Journal of Economy and Social Humanities
Publisher : International Publisher (YAPENBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56403/nejesh.v4i2.309

Abstract

In the relationship between government and society, public trust in government agencies is needed. The image of the local government is a factor, as a public service organization the image affects the opinions circulating in the community. The preparation of this research, using qualitative research methods, with descriptive research design. Researchers used data collection methods through participant observation. In every activity agenda carried out by Regional Leaders, in this case the Regent of Karawang is certainly accompanied by the Protocol Team as a coordination and communication team in the field. In the implementation of the communication strategy carried out there are several stages, namely: 1. Activity Schedule Sharing, 2. Activity Data & Information Collection, 3. Observation, 4. Publication. Obstacles in implementation often occur, there are 3 factors that affect obstacles, namely, data, coordination & communication, and information delays. It can be concluded that, the image of the local government is very important in building public trust in government institutions, effective communication from local leaders, especially through the protocol team, plays a major role in improving the image of the government. The obstacles experienced certainly need to be overcome for the effectiveness of the communication strategy carried out, with the aim of improving the image of the Karawang Regency local government.
Antara Kemudahan dan Kekhawatiran: Studi Fenomenologis tentang Perilaku Penolakan Pembayaran Nontunai oleh Pelaku UMKM Rafa Laila; Tikka Muslimah
KENDALI: Economics and Social Humanities Vol. 3 No. 3 (2025): KENDALI: Economics and Social Sciences Humanities, Maret 2025
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/kendali.v3i3.710

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji perilaku penolakan transaksi nontunai pada pedagang UMKM di Kabupaten Karawang menggunakan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi literatur, dengan fokus pada pengalaman komunikasi pedagang saat menolak pembayaran nontunai serta makna yang mereka berikan terhadap transaksi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan penolakan bervariasi, mulai dari keterbatasan pemahaman teknologi, kebiasaan pelanggan yang masih menggunakan tunai, hingga kekhawatiran terhadap keamanan. Komunikasi penolakan dilakukan secara terbuka dan tidak menimbulkan konflik. Transaksi nontunai dimaknai secara subjektif, tergantung pengalaman dan konteks sosial. Beberapa pedagang menyadari kemudahan yang ditawarkan, namun tetap memilih tunai demi kenyamanan operasional. Pemaknaan diri sebagai pelaku usaha menjadi dasar sikap tersebut. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan literasi keuangan dan penguatan infrastruktur digital untuk mendukung adopsi sistem pembayaran nontunai di kalangan UMKM.