Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara mahasiswa Muslim membentuk identitas diri, namun juga memicu fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan Quarter-Life Crisis (QLC) akibat budaya perbandingan sosial di ruang siber. Penelitian ini merupakan studi konseptual yang bertujuan membangun model rekonstruksi diri digital melalui integrasi Cybercounseling Islami. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap literatur psikologi digital, konseling, dan nilai-nilai Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa rekonstruksi diri digital dapat dilakukan melalui tiga tahap: Digital Consciousness sebagai kesadaran terhadap dampak media sosial, Tazkiyatun Nafs di Ruang Siber sebagai penyucian niat dan etika digital, serta Digital Stewardship sebagai peran mahasiswa menjadi khalifah digital yang produktif. Integrasi Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dengan prinsip Islam seperti muhasabah, qana’ah, syukur, tawakkal, dan ikhtiar dalam layanan Cybercounseling Islami terbukti efektif secara konseptual untuk mereduksi FOMO dan QLC. Teknik cognitive restructuring, thought stopping, dan religious CBT dipadukan dengan praktik spiritual untuk mengubah pola pikir maladaptif sekaligus memperkuat ketahanan batin. Kesimpulannya, model Cybercounseling Islami menghasilkan transformasi psikologis-spiritual dari comparison trap menuju self-acceptance yang berlandaskan ketetapan Allah. Pendekatan ini direkomendasikan sebagai strategi preventif dan kuratif untuk menjaga kesehatan mental mahasiswa Muslim di era digital.
Copyrights © 2026