Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika sikap wara’ dan gejala was-was dalam perspektif psikologi agama melalui pengalaman subjektif seorang Muslim dewasa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan catatan lapangan terhadap seorang informan yang menunjukkan kecenderungan kehati-hatian berlebihan dalam persoalan thaharah. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola pengalaman religius dan dinamika psikologis yang dialami informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap wara’ terbentuk melalui proses internalisasi nilai-nilai agama yang diperoleh dari pembelajaran fikih, pengalaman religius yang bermakna secara emosional, dan lingkungan sosial yang religius. Kehati-hatian yang awalnya bersifat adaptif kemudian berkembang menjadi gejala was-was religius yang ditandai oleh keraguan berulang mengenai kesucian dan keabsahan ibadah. Gejala tersebut menimbulkan dampak psikologis berupa kecemasan, rasa bersalah, ketakutan berbuat dosa, kelelahan emosional, serta gangguan dalam interaksi sosial. Meskipun demikian, informan menunjukkan kemampuan reflektif dalam membedakan antara wara’ dan was-was serta berupaya mengelola keraguan melalui pendalaman ilmu agama, konsultasi dengan guru agama, dan pengendalian emosi. Penelitian ini menunjukkan bahwa batas antara wara’ dan was-was terletak pada dampak psikologis yang ditimbulkan. Wara’ berfungsi sebagai bentuk kehati-hatian spiritual yang konstruktif, sedangkan was-was dapat berkembang menjadi sumber tekanan psikologis apabila tidak dikelola secara proporsional. Oleh karena itu, keberagamaan yang sehat memerlukan keseimbangan antara kesungguhan menjalankan ajaran agama dan pemeliharaan kesejahteraan psikologis individu.
Copyrights © 2026