Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan serealia yang berpotensi dikembangkan sebagai pangan lokal, pangan fungsional, dan komoditas adaptif lahan kering. Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki tantangan ketahanan pangan yang berkaitan dengan diversifikasi konsumsi, ketergantungan pada beras dan gandum, perubahan iklim, serta keterbatasan sumber daya lahan kering. Artikel ini bertujuan memetakan potensi sorgum dalam konteks NTB melalui pendekatan scoping review. Literatur dikaji dari artikel ilmiah, artikel review, laporan resmi, dan dokumen kebijakan yang relevan, terutama dalam rentang 2014–2026, dengan literatur klasik digunakan untuk konsep dasar ketahanan pangan, sejarah sorgum, dan metodologi. Sintesis dilakukan secara naratif-tematik mencakup sejarah sorgum, ketahanan pangan, komposisi gizi, metabolit primer, senyawa bioaktif, aktivitas biologis in vitro dan in vivo, pengaruh pengolahan, tren riset, serta strategi pengembangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sorgum memiliki potensi sebagai sumber karbohidrat, protein, serat pangan, mineral, senyawa fenolik, flavonoid, tanin, antosianin, 3-deoxyanthocyanidins, dan fitosterol. Sorgum juga berpeluang dikembangkan menjadi tepung lokal, produk bebas gluten, pangan sekolah, produk UMKM, pakan, dan bioindustri sederhana. Namun, bukti spesifik NTB masih terbatas. Diperlukan riset lokal terkait varietas, produktivitas, komposisi gizi, fitokimia, bioaktivitas, pengolahan, penerimaan konsumen, rantai nilai, dan kebijakan daerah.
Copyrights © 2026