Penelitian ini bertujuan untuk membongkar representasi komunikasi keluarga serta fenomena "mati rasa" emosional dalam film Perayaan Mati Rasa karya Umay Shahab. Keluarga modern sering kali menghadapi kebuntuan interaksi di mana kehadiran fisik tidak selaras dengan keterikatan batin. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis teks media, penelitian ini menerapkan teori semiotika John Fiske (The Codes of Television) yang membedah tanda ke dalam tiga tingkatan: level realitas, level representasi, dan level ideologi pada 15 scene terpilih yang merepresentasikan disfungsi dan rekonsiliasi komunikasi. Hasil temuan menunjukkan bahwa level realitas dikonstruksi lewat gestur kaku, keheningan (silence), dan ekspresi mikro tokoh Ian dan Uta. Pada level representasi, kebuntuan emosional diperkuat oleh pencahayaan low-key, sudut kamera eye-level yang intim namun berjarak, serta penataan ruang yang memisahkan karakter. Secara ideologis, film ini mengkritisi mitos maskulinitas patriarki (toxic masculinity) yang menuntut pria menyembunyikan kerapuhan emosional, sekaligus menawarkan ideologi rekonsiliasi bahwa pemulihan hubungan keluarga memerlukan keterbukaan dan penerimaan atas duka bersama. Kesimpulannya, film ini merepresentasikan bahwa komunikasi keluarga bukan sekadar pertukaran pesan verbal, melainkan sebuah ruang emosional yang membutuhkan kehadiran batin yang utuh.
Copyrights © 2026