Penelitian ini dilatarbelakangi oleh karakteristik sekolah berasrama (boarding school) yang beroperasi sebagai institusi total melalui monopoli ruang dan waktu serta penegakan aturan yang ketat. Penelitian ini bertujuan untuk mengurai secara mendalam mekanisme internalisasi aturan sekolah dan asrama ke dalam kognisi serta tindakan siswa di SMAN Cahaya Madani Banten Boarding School (CMBBS), sekaligus menganalisis bagaimana habitus yang terbentuk memanifestasikan dirinya dalam praktik sosial sehari-hari. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Data dihimpun melalui wawancara mendalam terhadap dua belas informan, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, yang kemudian dianalisis secara interaktif dibantu perangkat lunak NVivo untuk pengkodean bertema arena, modal, dan habitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi awal siswa dengan struktur objektif asrama memicu fenomena hysteresis, yaitu ketegangan antara habitus primer dari rumah dengan regulasi ketat institusi yang melahirkan rasa terpaksa dan gegar budaya. Kendati demikian, melalui tindakan pedagogis yang berulang, pengawasan, dan penegakan sanksi, aturan eksternal tersebut berhasil diserap menjadi disposisi subjektif (habitus baru). Habitus ini termanifestasi dalam praktik kedisiplinan manajemen waktu yang berjalan otomatis serta kemampuan siswa mengonversi paksaan struktural menjadi modal kultural dan simbolik, seperti yang tercermin pada kompetensi berpikir kritis dan rasa percaya diri dalam tradisi pidato tiga bahasa (Muhadoroh). Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan terjadinya reproduksi sosial yang sukses di SMAN CMBBS melalui transformasi aturan institusional menjadi keunggulan praktik sosial siswa di berbagai ranah kehidupan.
Copyrights © 2026