Artikel ini menganalisis hubungan antara moderasi beragama dan transformasi otoritas keislaman kontemporer dalam konteks fragmentasi dakwah digital di Indonesia. Era digital telah menghadirkan perubahan fundamental dalam lanskap dakwah Islam, di mana otoritas keagamaan tradisional mengalami dekonstruksi signifikan akibat munculnya aktor-aktor baru di ruang digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis wacana kritis terhadap berbagai literatur akademis kontemporer. Kerangka teoretis penelitian ini mengintegrasikan teori otoritas keagamaan Campbell, teori ruang media Couldry, dan konsep Post-Normal Times Ziauddin Sardar untuk membangun model analisis transformasi otoritas keislaman di era digital. Hasil analisis menunjukkan bahwa fragmentasi dakwah digital termanifestasi dalam tiga dimensi utama: (1) dekonstruksi otoritas tradisional ulama dan pesantren oleh influencer digital dan ustadz selebritas; (2) kontestasi narasi keagamaan antara wacana moderat dan radikal dalam algoritma media sosial; dan (3) negosiasi identitas keagamaan generasi muda Muslim dalam lanskap globalisasi digital. Penelitian ini juga menemukan bahwa moderasi beragama menghadapi tantangan struktural berupa enkklaf algoritmik yang memperkuat polarisasi, sekaligus membuka peluang melalui strategi dakwah multimazhab dan fikih moderasi digital. Artikel ini menawarkan model kerangka integratif transformasi otoritas keislaman sebagai kontribusi teoretis dan memberikan rekomendasi kebijakan bagi penguatan moderasi beragama di ruang digital Indonesia
Copyrights © 2026