Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Narasi Moderasi Beragama di Media Sosial : Analisis Wacana terhadap Kontestasi Otoritas Keislaman Generasi Muda Susilawati; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8521

Abstract

Artikel ini menganalisis narasi moderasi beragama di media sosial dan kontestasi otoritas keislaman generasi muda di Indonesia dalam lanskap digital kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis model Norman Fairclough dan kerangka ideologi Teun van Dijk, penelitian ini mengkaji bagaimana narasi moderasi beragama dikonstruksi, dinegosiasikan, dan dikontestasikan oleh generasi muda Muslim melalui platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Twitter/X. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka, memanfaatkan sumber data primer berupa artikel jurnal ilmiah, buku akademik, dan hasil penelitian terdahulu yang diterbitkan dalam rentang tahun 2017 hingga 2026. Hasil analisis menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, konstruksi narasi moderasi beragama di media sosial berlangsung melalui mekanisme yang kompleks dan platform-specific, mulai dari framing yang menghubungkan nilai keislaman dengan prinsip kebangsaan, dakwah kreatif berbasis visual di Instagram, hingga konten pendek yang mengombinasikan pesan keagamaan dengan hiburan di TikTok. Kedua, terjadi transformasi fundamental dalam mekanisme legitimasi otoritas keislaman, di mana otoritas tradisional yang berbasis tradisi keilmuan menghadapi tantangan dari aktor-aktor digital yang memperoleh otoritas melalui popularitas dan penguasaan algoritma platform. Ketiga, algoritma media sosial memainkan peran ambivalen: di satu sisi memungkinkan narasi moderasi menjangkau audiens luas, di sisi lain menciptakan enklave algoritmik yang memperkuat polarisasi wacana keagamaan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa moderasi beragama di ruang digital memerlukan literasi media kritis, penguatan kolaborasi antara otoritas keagamaan tradisional dan aktor digital generasi muda, serta pengembangan strategi promosi moderasi yang berbasis pemahaman mendalam tentang logika platform dan mekanisme algoritmik
Holistic Knowledge System: Desain Integrasi Ilmu dan Keislaman dalam Peradaban Kontemporer Neri Aslina; Said Maskur; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8548

Abstract

Fragmentasi keilmuan yang memisahkan ilmu dan keislaman telah mengakar dalam tradisi pendidikan Islam kontemporer, menghasilkan dikotomi yang menghambat kontribusi peradaban Islam terhadap perkembangan pengetahuan global. Artikel ini menganalisis desain holistic knowledge system sebagai kerangka integrasi ilmu dan keislaman dalam peradaban kontemporer melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kerangka analisis lima dimensi, yakni ontologis, epistemologis, aksiologis, metodologis-strategis, dan teleologis-transformatif. Melalui proses empat fase transformasi, yaitu identifikasi fragmentasi keilmuan Islam kontemporer, desain sistem pengetahuan holistik integratif, implementasi kurikulum dan institusi integratif-holistik, serta resiliensi dan keberlanjutan sistem pengetahuan holistik Islam, penelitian ini memetakan trajektori integrasi dalam tradisi keilmuan Islam. Studi kasus terhadap UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengungkap model integrasi yang beragam namun saling melengkapi. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama, meliputi sinkretisme epistemologis, reduksionisme integratif, resistensi institusional, dan subordinasi ilmu keislaman terhadap sains sekular, yang mengancam keberlangsungan integrasi tersebut. Temuan menunjukkan bahwa desain holistic knowledge system memerlukan keseimbangan dialektis antara ilmu keislaman sebagai sumber kebenaran transendental dan ilmu pengetahuan modern sebagai instrumen pemahaman empiris, di mana integrasi bukan berarti peleburan melainkan dialog kreatif yang mempertahankan otonomi dan integritas masing-masing tradisi keilmuan
Moderasi Beragama sebagai Strategi Ketahanan Sosial: Analisis terhadap Polarisasi Keagamaan Pasca Digitalisasi Dakwah Siti Fatimah; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8554

Abstract

Digitalisasi dakwah telah membawa transformasi fundamental dalam lanskap keberagamaan Indonesia, namun pada saat yang sama memicu fenomena polarisasi keagamaan yang mengancam ketahanan sosial. Penelitian ini menganalisis peran moderasi beragama sebagai strategi ketahanan sosial dalam menghadapi polarisasi keagamaan pasca digitalisasi dakwah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-analitis dan kerangka analisis multidimensi yang mencakup dimensi teologis, sosiologis, digital, institusional, dan kultural, penelitian ini mengembangkan model transformasi berfase empat yakni identifikasi, mitigasi, resiliensi, dan transformasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa algoritma media sosial menciptakan enklave digital yang memperkuat segregasi keagamaan, sementara otoritas keagamaan tradisional mengalami delegitimasi oleh munculnya dai selebritas dan ustadz influencer. Framework yang dikembangkan mengidentifikasi lima dimensi integratif dengan indikator terukur untuk menilai tingkat moderasi beragama di ruang digital. Studi kasus terhadap tiga lembaga keagamaan di Indonesia menunjukkan variasi signifikan dalam respons institusional terhadap polarisasi digital. Penelitian ini merekomendasikan penguatan literasi digital keagamaan, reformulasi otoritas dakwah berbasis kompetensi, dan pembangunan ekosistem digital yang inklusif sebagai strategi ketahanan sosial berkelanjutan
Moderasi Beragama dan Transformasi Otoritas Keislaman Kontemporer: Analisis terhadap Fragmentasi Dakwah Digital Sudirman Anwar; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8555

Abstract

Artikel ini menganalisis hubungan antara moderasi beragama dan transformasi otoritas keislaman kontemporer dalam konteks fragmentasi dakwah digital di Indonesia. Era digital telah menghadirkan perubahan fundamental dalam lanskap dakwah Islam, di mana otoritas keagamaan tradisional mengalami dekonstruksi signifikan akibat munculnya aktor-aktor baru di ruang digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis wacana kritis terhadap berbagai literatur akademis kontemporer. Kerangka teoretis penelitian ini mengintegrasikan teori otoritas keagamaan Campbell, teori ruang media Couldry, dan konsep Post-Normal Times Ziauddin Sardar untuk membangun model analisis transformasi otoritas keislaman di era digital. Hasil analisis menunjukkan bahwa fragmentasi dakwah digital termanifestasi dalam tiga dimensi utama: (1) dekonstruksi otoritas tradisional ulama dan pesantren oleh influencer digital dan ustadz selebritas; (2) kontestasi narasi keagamaan antara wacana moderat dan radikal dalam algoritma media sosial; dan (3) negosiasi identitas keagamaan generasi muda Muslim dalam lanskap globalisasi digital. Penelitian ini juga menemukan bahwa moderasi beragama menghadapi tantangan struktural berupa enkklaf algoritmik yang memperkuat polarisasi, sekaligus membuka peluang melalui strategi dakwah multimazhab dan fikih moderasi digital. Artikel ini menawarkan model kerangka integratif transformasi otoritas keislaman sebagai kontribusi teoretis dan memberikan rekomendasi kebijakan bagi penguatan moderasi beragama di ruang digital Indonesia
Human Capital Transformation: Revitalisasi SDM Pendidikan dalam Era Digital Civilization Susilawati; Said Maskur; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8829

Abstract

Artikel ini menganalisis transformasi human capital dalam konteks revitalisasi sumber daya manusia pendidikan di era digital civilization. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berjenis studi pustaka, penelitian ini mengintegrasikan kerangka teori human capital dari Gary Becker dan Thomas Davenport dengan perspektif revolusi industri keempat dari Klaus Schwab serta analisis masyarakat jaringan dari Manuel Castells untuk mengkaji bagaimana SDM pendidikan perlu ditransformasi agar mampu menghadapi tantangan peradaban digital. Hasil analisis menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, transformasi human capital dalam pendidikan mensyaratkan pergeseran paradigma dari model berbasis pengetahuan konvensional menuju model berbasis kompetensi digital, literasi abad ke-21, dan kemampuan belajar sepanjang hayat, yang mencakup dimensi keterampilan kognitif tingkat tinggi, kolaborasi lintas budaya, dan adaptasi terhadap perubahan teknologi yang eksponensial. Kedua, revitalisasi SDM pendidikan memerlukan integrasi antara nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan dengan tuntutan kompetensi global, sebagaimana dipraktikkan oleh pesantren modern dan institusi pendidikan Islam yang berupaya menjembatani tradisi dan modernitas dalam kurikulum dan pedagogi mereka. Ketiga, tantangan utama dalam transformasi ini terletak pada kesenjangan digital yang masih lebar, resistensi institusional terhadap perubahan, dan minimnya investasi sistemik dalam pengembangan kapasitas guru dan tenaga kependidikan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa revitalisasi SDM pendidikan di era digital civilization memerlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan reformasi kebijakan, penguatan kapasitas individual dan institusional, serta kolaborasi multisectoral untuk mewujudkan ekosistem pendidikan yang adaptif, inklusif, dan berdaya saing global
The Future of Islamic Science: Integrasi Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi dalam Ilmu Pengetahuan Modern Susilawati; Said Maskur; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8831

Abstract

Artikel ini mengkaji masa depan ilmu Islam melalui lensa integrasi tiga fondasi filosofis utama, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi, dalam konteks ilmu pengetahuan modern. Perdebatan mengenai hubungan antara Islam dan sains telah berlangsung selama berabad-abad, namun belum ada konsensus yang memadai tentang bagaimana kerangka keilmuan Islam dapat berinteraksi secara produktif dengan paradigma sains modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana filosofis dan kajian pustaka untuk mengeksplorasi bagaimana integrasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis dapat menjadi jembatan antara tradisi keilmuan Islam dan sains kontemporer. Temuan utama menunjukkan bahwa integrasi ontologi menekankan kesatuan hakikat (wahdah al-wujud) sebagai fondasi kosmologi Islam yang selaras dengan prinsip keteraturan alam dalam sains modern. Integrasi epistemologi menawarkan perluasan sumber pengetahuan melampaui empirisme positivistik dengan memasukkan wahyu, intuisi, dan pengalaman spiritual sebagai sumber pengetahuan yang valid. Sementara itu, integrasi aksiologi menegaskan bahwa ilmu pengetahuan haruslah bermuatan nilai dan bertujuan untuk kebaikan umat manusia, menolak klaim netralitas nilai yang dianut oleh sains modern konvensional. Artikel ini menyimpulkan bahwa masa depan ilmu Islam terletak pada kemampuannya untuk membangun kerangka integratif yang holistik, yang tidak hanya mengakomodasi temuan-temuan sains modern tetapi juga memberikan landasan etis dan spiritual yang kuat bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Model integrasi holistik yang diusulkan menempatkan ketiga dimensi filosofis ini sebagai pilar yang saling berkaitan dan tak terpisahkan dalam membangun paradigma keilmuan baru yang lebih komprehensif
Smart Institution Management: Integrasi Artificial Intelligence dalam Transformasi Lembaga Pendidikan Modern Sudirman Anwar; Said Maskur; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8832

Abstract

Transformasi digital yang didorong oleh perkembangan artificial intelligence (AI) telah mengubah secara fundamental paradigma manajemen lembaga pendidikan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif integrasi AI dalam transformasi manajemen lembaga pendidikan modern melalui pendekatan Smart Institution Management. Dengan menggunakan metode kualitatif-komparatif dan analisis literatur sistematis terhadap 25 sumber akademik terpilih, studi ini mengembangkan framework Smart Institution Management yang mencakup lima dimensi integrasi AI, yaitu: smart governance, smart curriculum, smart human resource, smart infrastructure, dan smart community engagement. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi AI dalam lembaga pendidikan Islam Indonesia menghadapi tantangan struktural berupa kesenjangan digital, resistensi institusional, dan dilema etis antara efisiensi teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Namun, peluang transformatif teridentifikasi melalui optimalisasi pengambilan keputusan berbasis data, personalisasi pembelajaran adaptif, dan otomasi administrasi akademik. Model Smart Management yang dikembangkan dalam penelitian ini menawarkan indikator terukur untuk setiap dimensi integrasi, serta menyediakan roadmap strategis bagi lembaga pendidikan Islam untuk bertransformasi secara bertahap. Studi kasus terhadap pesantren dan universitas Islam di Indonesia mengilustrasikan bahwa keberhasilan transformasi sangat bergantung pada kepemimpinan transformatif, kesiapan infrastruktur digital, dan keselarasan antara inovasi teknologi dengan nilai-nilai keislaman. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan teori manajemen pendidikan Islam di era AI serta menawarkan rekomendasi praktis bagi pemangku kebijakan pendidikan
Integrasi Ilmu dan Agama: Model Pengembangan Keilmuan Berbasis Tauhid di Era Kontemporer Abdul Rouf; Said Maskur; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8833

Abstract

Integrasi ilmu dan agama merupakan agenda intelektual yang mendesak di era kontemporer, khususnya dalam konteks pengembangan keilmuan Islam yang berorientasi tauhid. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif model pengembangan keilmuan berbasis tauhid sebagai kerangka integratif yang menghubungkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-komparatif dan analisis literatur sistematis terhadap 24 sumber akademik, studi ini mengembangkan framework integrasi ilmu berbasis tauhid yang mencakup lima dimensi: ontologis-tauhidi, epistemologis-integratif, metodologis-interdisipliner, aksiologis-kemaslahatan, dan institusional-kurikular. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tauhid sebagai prinsip unifikasi menyediakan fondasi filosofis yang paling koheren untuk mengintegrasikan berbagai tradisi keilmuan, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh al-Attas (1995) dan Bakar (1999). Temuan juga mengungkapkan bahwa implementasi integrasi berbasis tauhid di perguruan tinggi Islam Indonesia menghadapi tantangan struktural berupa dikotomi ilmu yang mengakar, resistensi epistemologis, fragmentasi kurikulum, dan minimnya model praktis yang teruji. Model pengembangan bertahap yang ditawarkan mencakup indikator terukur untuk setiap dimensi serta roadmap strategis yang mengakomodasi keberagaman konteks kelembagaan. Studi kasus terhadap tiga perguruan tinggi Islam di Indonesia mengilustrasikan bahwa keberhasilan integrasi sangat bergantung pada komitmen institusional terhadap paradigma tauhid, pengembangan kapasitas dosen integratif, dan desain kurikulum yang secara eksplisit menghubungkan disiplin ilmu dengan prinsip-prinsip keislaman
The New Paradigma of Islamic Knowledge: Integrasi Ilmu, Teknologi, dan Spiritualitas Siti Fatimah; Said Maskur; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8834

Abstract

Dikotomi ilmu agama dan ilmu umum telah menjadi problem epistemologis yang mengakar dalam tradisi akademik Islam kontemporer, menghasilkan fragmentasi keilmuan yang menghambat pengembangan paradigma integratif. Penelitian ini menganalisis paradigma baru keilmuan Islam yang mengintegrasikan ilmu, teknologi, dan spiritualitas sebagai respons terhadap tantangan epistemologis era Society 5.0 dan Industry 5.0. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-analitis dan kerangka analisis multidimensi yang mencakup dimensi epistemologis, kurikular, teknologis, spiritual, dan institusional, penelitian ini mengembangkan model transformasi berfase empat yakni dekonsruksi, reorientasi, integrasi, dan institutionalisasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemikiran Al-Attas tentang dewesternization, Al-Faruqi tentang Islamisasi ilmu, dan Amin Abdullah tentang integrasi-interkoneksi memberikan fondasi epistemologis yang saling melengkapi bagi paradigma baru ini. Framework yang dikembangkan mengidentifikasi lima dimensi integratif dengan indikator terukur untuk menilai tingkat integrasi ilmu-teknologi-spiritualitas dalam lembaga pendidikan Islam. Studi kasus terhadap tiga universitas Islam di Indonesia menunjukkan variasi signifikan dalam implementasi paradigma integratif. Penelitian ini merekomendasikan reformulasi epistemologi keilmuan Islam, pengembangan kurikulum transdisipliner berbasis tauhid, dan penguatan infrastruktur teknologi-spiritualitas sebagai strategi transformasi keilmuan Islam kontemporer
Global Trust Management: Membangun Reputasi dan Daya Saing Lembaga Pendidikan di Era Borderless Education Fithri Mehdini Addieningrum; Said Maskur; Muhammad Faisal
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.8838

Abstract

Era borderless education telah menghadirkan tantangan baru bagi lembaga pendidikan di Indonesia dalam membangun dan mempertahankan kepercayaan publik di tengah kompetisi global yang semakin intensif. Artikel ini menganalisis global trust management sebagai kerangka strategis untuk membangun reputasi dan daya saing lembaga pendidikan dengan mengidentifikasi lima dimensi kunci, yakni reputasi akademik, transparansi kelembagaan, kepuasan pemangku kepentingan, inovasi digital, dan legitimasi sosial-kultural. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis literatur sistematis, penelitian ini mengembangkan kerangka kerja komprehensif yang mencakup indikator terukur untuk setiap dimensi, model kematangan transformasi empat fase yang terdiri dari foundation building, trust acceleration, reputation consolidation, dan global competitiveness, serta studi kasus tiga lembaga pendidikan di Indonesia. Dengan demikian, borderless education bukan hanya ancaman tetapi juga peluang bagi lembaga pendidikan yang mampu mengelola trust secara efektif, karena kepercayaan yang terbangun secara autentik akan menjadi competitive advantage yang paling bertahan di tengah homogenisasi standar global. Temuan menunjukkan bahwa dimensi transparansi kelembagaan dan legitimasi sosial-kultural menghadapi tantangan paling signifikan, sementara dimensi reputasi akademik menunjukkan kemajuan relatif lebih konsisten. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama: reputasi superficial, trust deficit struktural, kesenjangan digital, dan erosi identitas lokal. Artikel ini berkontribusi pada pengembangan model trust management yang dapat dijadikan panduan bagi lembaga pendidikan dalam membangun reputasi dan daya saing yang berkelanjutan di era borderless education. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya bersifat akademik-analitis tetapi juga berupaya memberikan kontribusi praktis yang dapat langsung dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan di lapangan dalam merancang dan mengimplementasikan strategi trust management yang lebih terstruktur, terukur, dan responsif terhadap dinamika borderless education yang terus berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya