Artikel ini mengkaji masa depan ilmu Islam melalui lensa integrasi tiga fondasi filosofis utama, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi, dalam konteks ilmu pengetahuan modern. Perdebatan mengenai hubungan antara Islam dan sains telah berlangsung selama berabad-abad, namun belum ada konsensus yang memadai tentang bagaimana kerangka keilmuan Islam dapat berinteraksi secara produktif dengan paradigma sains modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana filosofis dan kajian pustaka untuk mengeksplorasi bagaimana integrasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis dapat menjadi jembatan antara tradisi keilmuan Islam dan sains kontemporer. Temuan utama menunjukkan bahwa integrasi ontologi menekankan kesatuan hakikat (wahdah al-wujud) sebagai fondasi kosmologi Islam yang selaras dengan prinsip keteraturan alam dalam sains modern. Integrasi epistemologi menawarkan perluasan sumber pengetahuan melampaui empirisme positivistik dengan memasukkan wahyu, intuisi, dan pengalaman spiritual sebagai sumber pengetahuan yang valid. Sementara itu, integrasi aksiologi menegaskan bahwa ilmu pengetahuan haruslah bermuatan nilai dan bertujuan untuk kebaikan umat manusia, menolak klaim netralitas nilai yang dianut oleh sains modern konvensional. Artikel ini menyimpulkan bahwa masa depan ilmu Islam terletak pada kemampuannya untuk membangun kerangka integratif yang holistik, yang tidak hanya mengakomodasi temuan-temuan sains modern tetapi juga memberikan landasan etis dan spiritual yang kuat bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Model integrasi holistik yang diusulkan menempatkan ketiga dimensi filosofis ini sebagai pilar yang saling berkaitan dan tak terpisahkan dalam membangun paradigma keilmuan baru yang lebih komprehensif
Copyrights © 2026