Articel ini mengkaji paradigma keilmuan holistik sebagai upaya mengintegrasikan Islam dan sains dalam sistem pendidikan global yang menghadapi tantangan fragmentasi epistemologis. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis hermeneutik dan studi komparatif, penelitian ini mengembangkan kerangka konseptual lima dimensi integrasi yang mencakup dimensi epistemologis, kurikular-pedagogis, institusional-struktural, kultural-kontekstual, dan teknologis-digital. Model transformasi empat fase yang dirumuskan meliputi dekonstruksi, reorientasi, integrasi, dan institusionalisasi, yang berfungsi sebagai panduan sistematis bagi lembaga pendidikan Islam dalam menerapkan paradigma integratif-holistik. Studi kasus terhadap UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menunjukkan bahwa implementasi integrasi Islam dan sains memerlukan komitmen institusional yang berkelanjutan, pembaruan kurikulum yang substansial, serta pengembangan kapasitas dosen yang transdisipliner. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama, yaitu reduksi integratif, dualisme epistemologis, eksklusionisme kultural, dan kooptasi institusional, yang berpotensi menghambat efektivitas paradigma holistik jika tidak dimitigasi secara tepat. Penelitian ini berkontribusi dalam menawarkan model transformasi yang operasional dan kontekstual bagi pengembangan pendidikan Islam yang mampu berdialog dengan tradisi keilmuan global tanpa kehilangan identitas epistemiknya
Copyrights © 2026