Tuberkulosis (TB) paru tetap menjadi ancaman kesehatan global utama, khususnya TB resisten rifampisin (RR) yang menyulitkan pengobatan dan pengendalian di negara berbeban tinggi seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan menggambarkan hasil pemeriksaan tes cepat molekuler (TCM) dan riwayat pengobatan sebelumnya terkait kejadian RR pada pasien TB paru. Studi deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif menganalisis 75 pasien dari populasi 82 kasus TB paru yang menjalani TCM di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Gorontalo (Januari–April 2025), dipilih melalui simple random sampling. Data diekstrak dari rekam medis menggunakan lembar observasi terstruktur yang mencakup demografi, hasil TCM (MTB detected dengan RR detected/RR not detected), dan riwayat pengobatan (TB baru vs. riwayat sebelumnya). Analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase melalui SPSS versi 26. Hasil menunjukkan 80% RR not detected dan 20% RR detected, dengan kecenderungan RR lebih tinggi pada laki-laki (73,3%), kelompok usia 36–55 tahun, pendidikan dasar, pekerjaan berisiko rendah sosial-ekonomi, serta pasien dengan riwayat pengobatan sebelumnya (41,3%). TCM terbukti efektif mendeteksi RR yang utamanya berkaitan dengan riwayat pengobatan, sehingga diperlukan skrining terarah dan edukasi kepatuhan untuk mencegah transmisi.
Copyrights © 2026