Penelitian ini mengkaji hakikat manusia dalam pendidikan Islam dari sudut pandang filosofis. Manusia dalam perspektif Islam dipahami sebagai makhluk mulia yang diciptakan oleh Allah SWT dengan dua substansi utama, yaitu dimensi jasmani (fisik) dan dimensi rohani (spiritual). Al-Qur’an menggunakan berbagai istilah untuk menyebut manusia—insan, basyar, Bani Adam—yang masing-masing mencerminkan dimensi keberadaan manusia yang berbeda. Manusia diembankan dua peran utama, yakni sebagai hamba Allah (ʿabdullah) dan sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fi al-ardh). Kedua peran ini menuntut pengembangan berbagai potensi, meliputi kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, moral, dan fisik. Para filsuf Islam seperti Ibn Arabi, Al-Ghazali, Al-Attas, Mutahhari, Hasan Al-Banna, dan Al-Maududi masing-masing memberikan pandangan yang kaya tentang hakikat manusia, dengan penekanan pada integrasi antara jasmani, akal, dan ruh. Dalam konteks pendidikan Islam, pemahaman yang benar tentang hakikat manusia menjadi fondasi yang sangat penting, karena pendidikan harus mengembangkan seluruh potensi manusia secara holistik sesuai dengan tujuan penciptaannya: beribadah kepada Allah dan memakmurkan bumi. Kajian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Islam harus berlandaskan pada konsepsi manusia yang integratif, memadukan pengembangan kognitif (aqliyah) dan spiritual-moral (qalbiyah) guna melahirkan muslim yang ideal (insan kamil).
Copyrights © 2026