Perundungan bernuansa agama di sekolah menengah pertama menjadi fenomena sosial yang mengancam iklim inklusivitas dan keberagaman. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengalaman korban atau saksi, dinamika relasi teman sebaya, serta bentuk intervensi sekolah dalam menangani perundungan bernuansa agama. Dengan menggunakan metode kualitatif studi lapangan sensitif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi kebijakan sekolah, penelitian ini menemukan tiga hal utama. Pertama, siswa mengalami ejekan karena cara berpakaian, kemampuan membaca Al-Qur'an, atau tingkat ketaatan ibadah. Kedua, kelompok teman sebaya memiliki peran ambivalen, yaitu dapat memperkuat perundungan atau justru menjadi jaringan solidaritas bagi korban. Ketiga, sekolah melakukan intervensi melalui guru BK, wali kelas, pembinaan PAI, serta penerapan tata tertib anti-perundungan, meskipun efektivitasnya masih bervariasi. Kontribusi penelitian ini secara teoretis memperkaya kajian sosiologi perundungan bernuansa agama, dan secara praktis menjadi rujukan bagi pengembangan pendidikan Islam serta penguatan mutu lembaga pendidikan dalam merancang kebijakan yang responsif terhadap keragaman.
Copyrights © 2026