Stunting pada balita usia 24–59 bulan merepresentasikan akumulasi defisit nutrisi kronis pasca-golden period yang berisiko menimbulkan dampak buruk permanen. Di wilayah pesisir perkotaan seperti Cilincing, Jakarta Utara, kejadian stunting masih menjadi tantangan pelik di tengah heterogenitas karakteristik ibu. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu sebagai determinan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Cilincing, Jakarta Utara. Metode: Studi kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 112 ibu yang memiliki balita usia 24–59 bulan. Sampel dipilih menggunakan teknik Probability Proportional to Size (PPS) sampling yang dikombinasikan dengan Simple Random Sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner tervalidasi dan pengukuran antropometri langsung (TB/U berdasarkan Z-score WHO). Analisis data menggunakan uji Pearson Chi-Square dan Regresi Logistik Berganda dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Prevalensi stunting pada balita akhir ditemukan sebesar 33,9%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu (p = 0,04) dan pengetahuan ibu (p = 0,01) dengan kejadian stunting. Analisis multivariat mengonfirmasi bahwa pengetahuan ibu merupakan determinan yang paling dominan, di mana ibu dengan pengetahuan kurang berisiko 3,64 kali lebih besar memiliki balita stunting (AOR = 3,64; 95% CI: 1,48–8,95; p = 0,005) setelah dikontrol oleh variabel pendidikan ibu (AOR = 2,59; 95% CI: 1,07–6,23; p = 0,034). Kesimpulan: Pengetahuan gizi praktis ibu merupakan faktor yang paling kritis dalam memitigasi risiko stunting pada balita akhir, bahkan melampaui pengaruh latar belakang pendidikan formalnya. Intervensi kesehatan masyarakat di wilayah pesisir perkotaan harus diprioritaskan pada penguatan literasi ibu secara promotif-preventif melalui optimalisasi peran Posyandu.
Copyrights © 2026