Kurikulum nasional Indonesia telah mengalami pergantian yang relatif cepat dalam dua dekade terakhir, mulai dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka, sebuah dinamika yang menimbulkan beban adaptasi tersendiri bagi guru di jenjang dasar, termasuk Madrasah Ibtidaiyah (MI). Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi persepsi guru MI terhadap frekuensi perubahan kurikulum nasional serta dampaknya terhadap praktik pembelajaran sehari-hari. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan delapan partisipan guru MI di Kabupaten Bondowoso yang dipilih secara purposive berdasarkan pengalaman mengajar minimal sepuluh tahun dan telah mengalami sekurang-kurangnya dua kali transisi kurikulum. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi kelas, dan studi dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru MI memaknai pergantian kurikulum sebagai sumber kelelahan administratif yang dominan (35%), diikuti kebingungan implementasi (28%), resistensi psikologis (18%), dan optimisme adaptif (19%). Temuan ini mengindikasikan bahwa frekuensi perubahan kebijakan kurikulum yang tidak diiringi pendampingan berkelanjutan justru melemahkan kapasitas profesional guru, alih-alih memperkuatnya. Penelitian ini merekomendasikan model transisi kurikulum yang lebih gradual, partisipatif, dan kontekstual dengan karakteristik madrasah.
Copyrights © 2026