UMKM memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, tetapi banyak pelaku UMKM masih menghadapi kendala dalam pengelolaan keuangan, terutama penerapan pencatatan keuangan sederhana dan terstruktur. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat kesiapan adopsi praktik pencatatan keuangan pada UMKM melalui workshop literasi keuangan selama satu hari di Balai Paroki Redemptor Mundi, Surabaya, yang diikuti oleh 100 pelaku UMKM. Metode kegiatan meliputi ceramah interaktif, simulasi pencatatan sederhana, diskusi, konsultasi, serta evaluasi lisan dan wawancara singkat pada akhir kegiatan. Hasil evaluasi lisan menunjukkan bahwa sekitar 70% peserta menyatakan bersedia mulai menggunakan pencatatan sederhana, sehingga angka tersebut dipahami sebagai indikator kesiapan atau niat awal, bukan sebagai bukti adopsi pencatatan yang konsisten. Faktor pendorong utama meliputi persepsi manfaat pencatatan, kesederhanaan format, dukungan sosial, self-efficacy, dan pemahaman pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga melalui pendekatan mental accounting. Hambatan yang ditemukan meliputi persepsi kompleksitas, kebiasaan mengandalkan ingatan, keterbatasan waktu, norma sosial yang belum mendukung, serta pencampuran keuangan usaha dan rumah tangga. Kontribusi kegiatan ini terletak pada integrasi pendekatan mental accounting, pemanfaatan konteks komunitas keagamaan sebagai ruang dukungan sosial, serta pemetaan faktor psikologis, sosial-budaya, dan praktis yang memengaruhi kesiapan adopsi pencatatan keuangan UMKM. Temuan menunjukkan bahwa intervensi literasi keuangan satu hari dapat mendorong kesiapan adopsi awal, tetapi diperlukan pendampingan lanjutan dan penyederhanaan praktik agar pencatatan keuangan berkembang menjadi kebiasaan yang konsisten dan berkelanjutan
Copyrights © 2026