Penelitian ini membedah bagaimana pesan revolusi dikonstruksi secara visual dalam poster teater "Gardu Revolusi Emak-Emak". Dengan menggabungkan teori semiotika Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Peirce, penelitian kualitatif ini mengungkap makna di balik simbol-simbol sederhana yang ditampilkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan siluet perempuan bersanggul dan pondok bambu bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan simbol perlawanan domestik yang merakyat. Melalui permainan warna merah-jingga yang melambangkan situasi darurat serta tipografi yang tegas namun tidak formal, poster ini berhasil menggeser citra "Emak-emak" dari sosok rumahan menjadi simbol gerakan perubahan yang radikal. Secara keseluruhan, penelitian ini membuktikan bahwa narasi revolusi dalam teater dapat disampaikan secara efektif melalui penguatan tanda-tanda visual yang dekat dengan realitas sosial masyarakat.
Copyrights © 2026