Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perspektif generasi tua dan generasi muda terhadap sinandong sebagai tradisi lisan Melayu di Sumatera Utara, serta mengidentifikasi kesenjangan pemahaman dan keterlibatan antargenerasi dalam pelestariannya. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring (Google Form) terhadap responden masyarakat Melayu di Kabupaten Serdang Bedagai dan sekitarnya dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 91,7% responden telah mengenal sinandong, namun terdapat perbedaan signifikan dalam praktiknya. Seluruh responden generasi tua pernah mempraktikkan sinandong, sedangkan 83,3% generasi muda tidak pernah terlibat secara langsung. Pewarisan sinandong masih didominasi oleh lingkungan keluarga, sementara peran pendidikan formal dan media digital masih terbatas. Meskipun seluruh responden menyatakan bahwa sinandong penting untuk dilestarikan, keterlibatan aktif generasi muda masih rendah. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran dan praktik pelestarian budaya. Oleh karena itu, diperlukan strategi pelestarian yang adaptif melalui digitalisasi, integrasi dalam pendidikan, serta penguatan ruang kreatif agar sinandong tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Copyrights © 2026