Mangalap Tondi merupakan tradisi lisan etnis Angkola yang dilakukan untuk memanggil kembali jiwa (tondi) seseorang yang melemah akibat trauma atau penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prosesi ritual Mangalap Tondi, nilai serta mekanisme psikologis di dalamnya, dan peran tradisi ini dalam menumbuhkan pola pikir berdasarkan Teori Mindset Carol S. Dweck. Menggunakan pendekatan kualitatif etnografi, penelitian ini mendeskripsikan kearifan lokal kelompok budaya secara naratif. Hasil analisis etnografi komunikasi model SPEAKING Dell Hymes menunjukkan ritual ini merupakan peristiwa tutur sakral yang melibatkan latar fisik-psikologis spesifik (Setting/Scene), partisipasi komunitas (Participants), tujuan pemulihan (Ends), urutan tindakan senyap hingga formula verbal (Act Sequence), nada khidmat (Keys), media beras dan telur (Instrumentalities), norma keheningan total (Norms), serta bergenre upacara tradisional (Genre). Secara psikologis, kondisi pascatrauma korban merepresentasikan Fixed Mindset (pola pikir statis) yang ditandai dengan perasaan hampa, melamun, dan gangguan psikosomatis. Pelaksanaan ritual bertindak sebagai intervensi eksternal dan katalis yang memicu pergeseran menuju Growth Mindset (pola pikir berkembang). Melalui efek kejut (shock therapy) tuturan verbal, simbol budaya, dan dukungan kolektif, korban merekonstruksi keyakinan baru bahwa jiwanya telah utuh kembali. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Mangalap Tondi berfungsi efektif sebagai instrumen penguatan psikologis dan resiliensi diri berbasis kearifan lokal.
Copyrights © 2026