Sebaran kasus kusta di Provinsi Sumatera Barat belum mencapai status eradikasi dengan kasus baru masih ditemukan setiap tahun. Penelitian ini bertujuan untuk melihat persebaran spasial kasus kusta di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2020-2024 serta keterkaitannya dengan faktor risiko lingkungan. Studi ini menggunakan desain ekologi dengan memanfaatkan data sekunder yang dilakukan pada Juni-Oktober 2025. Data terkait penyakit kusta diperoleh dari Dinas Kesehatan dan data terkait faktor lingkungan diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. Analisis data berupa pemetaan tematik dan overlay menggunakan software QGIS. Sebaran kasus kusta di Provinsi Sumatera Barat selama 2020-2024 bersifat fluktuatif dan tidak merata, dengan beberapa wilayah seperti Kabupaten Padang Pariaman, Pasaman Barat, Pasaman, Lima Puluh Kota, dan Kota Pariaman secara konsisten berada pada wilayah prioritas. Sanitasi dan akses air minum menjadi aspek yang mencerminkan kondisi lingkungan dan menjadi perhatian pada risiko penularan kusta, di mana daerah dengan sanitasi buruk dan air minum tidak layak memiliki kecenderungan memiliki kasus kusta yang lebih tinggi. Pengendalian kusta memerlukan pendekatan terpadu multisektoral yang fokus pada peningkatan sanitasi, penyediaan air bersih, dan penyehatan lingkungan, khususnya di wilayah prioritas untuk percepatan eradikasi kusta.
Copyrights © 2026