Tanaman pisang (Musa spp.) yang bersifat monokarpik secara rutin menghasilkan residu biomassa berupa batang semu (pseudostem) pasca-panen dalam jumlah melimpah. Di Gorontalo, limbah lignoselulosa ini belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kebutuhan kerajinan sulam Karawo sebagai aset budaya daerah yang masih bergantung pada benang tekstil sintetis sehingga berdampak pada tingginya biaya produksi dan tantangan keberlanjutan lingkungan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mentransformasi rantai nilai Karawo melalui substitusi dari benang sintetis menggunakan benang serat pelepah pisang yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kapasitas serta diversifikasi produk pengrajin. Kegiatan dilaksanakan di Desa Huluduotamo, Kabupaten Bone Bolango dengan model kolaborasi Quad Helix yang melibatkan akademisi (UNG), pemerintah (Kemdiktisaintek), UMKM (TIAR Handycraft), dan masyarakat. Pendekatan partisipatif-edukatif digunakan melalui tiga modul utama, yaitu ekstraksi serat, penenunan benang menjadi kain, dan penyulaman Karawo menggunakan serat pelepah pisang. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada 15 pengrajin sasaran, baik ahli maupun pemula, dalam penguasaan keterampilan fiber-to-fabric. Inovasi ini tidak hanya memperluas ragam produk, tetapi juga menegaskan potensi limbah pisang sebagai material bernilai tambah, sekaligus mendorong ekonomi sirkular dan ekonomi hijau berbasis komunitas.
Copyrights © 2026