Latar Belakang: Nyeri leher merupakan keluhan muskuloskeletal yang sering dialami remaja putri akibat penggunaan gadget dalam waktu lama, postur tubuh buruk, serta rendahnya aktivitas fisik. Penanganan non-farmakologis seperti stretching perlu dikembangkan sebagai alternatif intervensi yang mudah dan aman. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stretching statis dan stretching dinamis terhadap nyeri leher pada remaja putri serta membandingkan efektivitas kedua metode tersebut. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest two group design. Sampel berjumlah 34 remaja putri usia 10-19 tahun yang mengalami nyeri leher, dibagi menjadi dua kelompok: kelompok stretching statis (n=17) dan kelompok stretching dinamis (n=17). Intervensi diberikan 3 kali seminggu selama 1 bulan (total 12 kali pertemuan). Pengukuran nyeri menggunakan Visual Analog Scale (VAS). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan kedua kelompok mengalami penurunan nyeri yang signifikan (p=0,000). Pada kelompok stretching statis, rata-rata skor nyeri menurun dari 4,76 menjadi 0,53 dengan tingkat kesembuhan total 76,5%. Pada kelompok stretching dinamis, rata-rata skor nyeri menurun dari 4,71 menjadi 1,06 dengan tingkat kesembuhan total 52,9%. Uji Mann-Whitney menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p=0,133 > 0,05). Kesimpulan: Stretching statis dan dinamis sama-sama efektif menurunkan nyeri leher pada remaja putri. Stretching statis cenderung memberikan hasil klinis yang lebih unggul dan direkomendasikan sebagai intervensi pilihan utama.
Copyrights © 2026