Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Stretching Statis dan Dinamis terhadap Nyeri Leher Remaja Putri Anggita Ghina Safitri; Fiqi Widyawati; Young Ari Kusworo; Azizah Rahmawati
Jurnal Olahraga Kebugaran dan Rehabilitasi (JOKER) Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Olahraga Kebugaran dan Rehabilitasi (JOKER)
Publisher : Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/joker.v6i1.13571

Abstract

Latar Belakang: Nyeri leher merupakan keluhan muskuloskeletal yang sering dialami remaja putri akibat penggunaan gadget dalam waktu lama, postur tubuh buruk, serta rendahnya aktivitas fisik. Penanganan non-farmakologis seperti stretching perlu dikembangkan sebagai alternatif intervensi yang mudah dan aman. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stretching statis dan stretching dinamis terhadap nyeri leher pada remaja putri serta membandingkan efektivitas kedua metode tersebut. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest two group design. Sampel berjumlah 34 remaja putri usia 10-19 tahun yang mengalami nyeri leher, dibagi menjadi dua kelompok: kelompok stretching statis (n=17) dan kelompok stretching dinamis (n=17). Intervensi diberikan 3 kali seminggu selama 1 bulan (total 12 kali pertemuan). Pengukuran nyeri menggunakan Visual Analog Scale (VAS). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan kedua kelompok mengalami penurunan nyeri yang signifikan (p=0,000). Pada kelompok stretching statis, rata-rata skor nyeri menurun dari 4,76 menjadi 0,53 dengan tingkat kesembuhan total 76,5%. Pada kelompok stretching dinamis, rata-rata skor nyeri menurun dari 4,71 menjadi 1,06 dengan tingkat kesembuhan total 52,9%. Uji Mann-Whitney menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p=0,133 > 0,05). Kesimpulan: Stretching statis dan dinamis sama-sama efektif menurunkan nyeri leher pada remaja putri. Stretching statis cenderung memberikan hasil klinis yang lebih unggul dan direkomendasikan sebagai intervensi pilihan utama.
Efektivitas Kinesio Taping Terhadap Intensitas Nyeri Dismenore Primer Pada Remaja Putri di Pondok Pesantren Muhammadiyah Darussalam Demak Nazula Rahma El Sakina; Fiqi Widyawati; Young Ari Kusworo; Azizah Rahmawati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61200

Abstract

Dismenore primer merupakan nyeri menstruasi yang sering dialami oleh remaja putri akibat kontraksi uterus yang berlebihan karena peningkatan produksi prostaglandin. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, proses belajar, serta menurunkan kualitas hidup. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi nyeri dismenore primer adalah kinesio taping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian kinesio taping terhadap penurunan intensitas nyeri dismenore primer pada remaja putri. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain quasi experimental menggunakan pretest-posttest control group design. Penelitian dilaksanakan di Pondok Pesantren Muhammadiyah Darussalam Bintoro Demak, Jawa Tengah. Sampel penelitian berjumlah 22 responden yang terdiri atas 11 responden kelompok intervensi dan 11 responden kelompok kontrol, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran intensitas nyeri dilakukan sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) intervensi menggunakan Visual Analog Scale (VAS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Shapiro-Wilk serta Paired Sample t-test dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata intensitas nyeri pada kelompok intervensi sebelum pemberian kinesio taping sebesar 6,982 ± 1,208, kemudian menurun menjadi 2,336 ± 0,641 setelah intervensi. Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) dengan rata-rata selisih penurunan nyeri sebesar 4,646, yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah pemberian kinesio taping. Pada kelompok kontrol juga terjadi penurunan intensitas nyeri dengan nilai p = 0,011, namun besarnya penurunan lebih kecil dibandingkan kelompok intervensi. Dapat disimpulkan bahwa pemberian kinesio taping efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dismenore primer pada remaja putri. Kinesio taping dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif intervensi fisioterapi nonfarmakologis yang aman, mudah diaplikasikan, dan efektif dalam membantu mengurangi nyeri dismenore primer.
Effect Of Infrared Therapy And William Flexion Exercise On Activities Of Daily Living Among Older Adults With Non-Specific Low Back Pain Eka Putri Hikmawati; Fiqi Widyawati; Young Ari Kusworo; Azizah Rahmawati
Journal Hygeia Public Health Vol 4 No 3 (2026): June
Publisher : LPPJPHKI Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jhph.v4i3.11575

Abstract

Background: Non-specific low back pain (LBP) is a common musculoskeletal disorder among older adults and may reduce their ability to perform activities of daily living (ADL). Various physiotherapy interventions have been applied to manage this condition, including infrared (IR) therapy and William Flexion Exercise (WFE). This study aimed to analyze the effects of IR and WFE on ADL among older adults with non-specific LBP and to compare the effectiveness of both interventions. Methods: This study employed a quantitative experimental design using a two-group pretest–posttest approach. A total of 30 older adults with non-specific LBP who met the inclusion criteria were selected through purposive sampling and assigned to either the IR group (n=15) or the WFE group (n=15). Interventions were administered twice weekly for four weeks. ADL was assessed using the Oswestry Disability Index (ODI). Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test and Mann–Whitney U Test. Results and Discussion: The results showed that IR significantly improved ADL among older adults with non-specific LBP (p=0.000). Similarly, WFE demonstrated a significant effect on ADL improvement (p=0.000). The Mann–Whitney U Test revealed a significant difference between the two interventions (p=0.000). The WFE group had a higher mean rank (21.43) than the IR group (9.57), indicating that WFE was more effective in improving ADL among older adults with non-specific LBP. Conclusion: Both infrared therapy and William Flexion Exercise significantly improved ADL among older adults with non-specific LBP. However, William Flexion Exercise demonstrated greater effectiveness than infrared therapy in enhancing ADL performance.
Pengaruh Terapi Infrared dan William Flexion Exercises terhadap Nyeri Punggung Bawah pada Petani Padi Lansia Uswatun Hasanah; Fiqi Widyawati; Azizah Rahmawati; Young Ari Kusworo
OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 4 No. 4 (2026): Juli : OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/obat.v4i4.2371

Abstract

Elderly female rice farmers are vulnerable to chronic low back pain (LBP) due to prolonged bending activities, repetitive movements, and physical degeneration. This study analyzed the effects and the comparative effectiveness of infrared (IR) therapy and William Flexion Exercises (WFE) in reducing low back pain among elderly rice farmers. This study used a quasi-experimental design with a pre-test post-test control group design. The sample consisted of 30 elderly female rice farmers in Wukirsawit Village, Karanganyar (selected via purposive sampling), who were divided into the IR Group (n=15) and the WFE Group (n=15) for 12 sessions over 4 weeks. The measuring instrument used was the Visual Analog Scale (VAS), and the data were tested using the Wilcoxon Signed Rank Test and the Mann-Whitney U Test. Both interventions were proven to significantly reduce pain intensity (p<0.001). However, the between-group test showed a significant difference (p = 0.027), with the WFE group demonstrating a higher pain reduction effectiveness compared to IR therapy. These findings indicate that WFE can be prioritized as a primary active intervention for elderly rice farmers with LBP, while IR therapy can be used as a complementary modality prior to exercise.
Pengaruh Infrared dan William Flexion terhadap Skala Nyeri Low Back Pain Myogenik pada Pembatik Vira Khoirul Nissa; Fiqi Widyawati; Azizah Rahmawati; Young Ari Kusworo
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 5 No. 7 (2026): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Juli 2026
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v5i7.7031

Abstract

Myogenic Low Back Pain (LBP) is a musculoskeletal disorder commonly experienced by batik workers due to prolonged static postures and repetitive movements, resulting in pain and functional limitations. Infrared, as a superficial heat therapy modality, and William Flexion exercises are physiotherapy interventions used to reduce pain associated with myogenic LBP. This study aimed to evaluate the effects of Infrared and William Flexion on pain intensity among batik workers with myogenic Low Back Pain and to compare the effectiveness of both interventions. A quantitative study with a quasi-experimental two-group pre-test–post-test design was conducted involving 40 batik workers selected through purposive sampling and allocated into two intervention groups. Pain intensity was assessed using the Visual Analog Scale (VAS) and analyzed using paired sample t-tests and an independent sample t-test. The Infrared group showed a significant reduction in mean pain scores from 6.53 to 4.58 (p < 0.001; Cohen's d = 3.94), while the William Flexion group demonstrated a significant decrease from 6.72 to 4.76 (p < 0.001; Cohen's d = 2.67), indicating very large clinical effects in both groups. However, no significant difference was found between the two interventions (p = 0.573). It can be concluded that both Infrared therapy and William Flexion exercises are equally effective in reducing pain among batik workers with myogenic Low Back Pain, with both interventions demonstrating substantial clinical benefits.