Kajian ini memusatkan perhatian pada analisis makna konotatif yang melekat pada pilihan kata (diksi) dalam cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam, serta penelusuran bagaimana makna-makna tersebut secara kolektif membentuk nuansa eksistensial yang menyelimuti keseluruhan narasi. Penelitian bersifat kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan semantik dan kritik sastra. Teori makna konotatif Geoffrey Leech menjadi landasan utama dalam mengidentifikasi dimensi konotatif diksi, sementara kerangka semantik Abdul Chaer digunakan untuk memetakan relasi makna dalam konteks budaya dan sosial. Adapun pembacaan eksistensial bertumpu pada pemikiran Jean-Paul Sartre dan Albert Camus yang kemudian dikontekstualisasikan dalam perspektif kajian fiksi Burhan Nurgiyantoro. Hasil analisis menunjukkan bahwa diksi-diksi sentral seperti kunang-kunang, Manhattan, malam, cahaya, dan diam memuat lapisan makna konotatif yang jauh melampaui denotasinya. Makna-makna ini secara konsisten menghadirkan tema kesepian, keterasingan eksistensial, rapuhnya relasi antarmanusia, dan pencarian makna dalam kekosongan. Cerpen Umar Kayam terbukti memanfaatkan kekuatan diksi bukan sekadar sebagai ornamen estetis, melainkan sebagai instrumen ideologis yang mengejawantahkan krisis eksistensial manusia modern. Penelitian ini diharapkan memberi sumbangsih bagi pengembangan kritik sastra semantik-eksistensial di Indonesia.
Copyrights © 2026