Representasi trauma kolektif dalam karya sastra tidak hanya dibangun melalui alur naratif, tetapi juga melalui pilihan gaya bahasa yang membentuk makna simbolik dan kultural. Meskipun kajian stilistika dan semantik terhadap sastra Indonesia terus berkembang, hubungan antara idiom, perumpamaan, dan representasi trauma sosio-politik masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis klasifikasi, fungsi, dan konstruksi makna idiom serta perumpamaan dalam cerpen Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam karya Sasti Gotama. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif semantik leksikal dan semantik kognitif untuk mengidentifikasi pola makna yang membangun representasi pengalaman traumatis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa idiom dan perumpamaan membentuk tiga ranah semantik utama, yaitu ruang domestik sebagai simbol keamanan, citraan kebinatangan dan bencana sebagai representasi kekerasan kolektif, serta metafora folklor sebagai alegori marginalisasi. Pergeseran makna dari citraan keseharian menuju representasi tubuh dan kekerasan memperlihatkan fungsi gaya bahasa sebagai strategi diskursif dalam membangun kritik sosial dan memori kolektif atas tragedi Mei 1998. Temuan ini memperkaya kajian semantik sastra dengan menunjukkan bahwa gaya bahasa tidak hanya berfungsi sebagai perangkat estetis, tetapi juga sebagai medium representasi trauma, identitas, dan sejarah sosial.
Copyrights © 2026