Para petani melakukan penyemprotan dua kali dalam seminggu dan lebih dari 18 kali setiap musim tanam. Namun, dalam praktiknya, mereka sering mengabaikan beberapa prosedur, seperti menyemprot di waktu yang tidak tepat, melakukan penyemprotan tanpa memperhatikan arah angin, merokok setelah proses semprot, dan tidak memakai alat pelindung diri. Hal ini terjadi karena kebiasaan mereka yang belum terbiasa menggunakan alat pelindung diri, serta merasa kurang nyaman dan terhambat dalam bergerak saat mengenakannya saat menyemprot pestisida.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan frekuensi kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di kalangan petani penyemprot pestisida di Desa Saluassing. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah potong lintang (cross sectional), dengan melibatkan 157 responden yang keseluruhannya adalah petani di area tersebut. Temuan dari penelitian menunjukkan bahwa faktor usia, pendidikan, dan mayoritas jenis kelamin pria di antara petani penyemprot mempengaruhi tingginya kerentanan terhadap ISPA. Risiko ini semakin meningkat di kelompok petani yang lebih tua dengan tingkat pendidikan rendah, yang tidak memanfaatkan APD secara optimal. Juga ditemukan bahwa penggunaan APD secara lengkap berpengaruh signifikan dalam mengurangi risiko ISPA, di mana frekuensi ISPA lebih tinggi di antara responden yang tidak menggunakan APD secara menyeluruh.
Copyrights © 2025