Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Studi Fenomenologi Persepsi Masyarakat Terhadap Pernikahan Usia Dini Di Lingkungan Gernas Kelurahan Madatte Afriani Afriani
J-KESMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 2, No 2 (2016): J-Kesmas Volume 2, Nomor 2, Nopember 2016
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jkesmas.v2i2.155

Abstract

Pernikahan dini di lingkungan remaja cenderung berdampak negatif baik dari segi sosial ekonomi, mental/psikologis, fisik, terutama bagi kesehatan reproduksi sang remaja tersebut. Dampak dari pernikahan usia dini terhadap kesehatan reproduksi salah satunya yaitu perempuan usia 15-19 tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar meninggal saat melahirkan dibandingkan yang berusia 20-25 tahun, sedangkan usia di bawah 15 tahun kemungkinan meninggal bisa lima kali. Perempuan muda yang sedang hamil, berdasarkan penelitian akan mengalami beberapa hal, seperti akan mengalami pendarahan, keguguran, dan persalinan yang lama atau sulit, selain itu dapat mengakibatkan kekerasan dalam rumah tangga, pertengkaran dan perceraian.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk mengeskplorasi secara mendalam tentang budaya pernikahan usia dini. Pengalaman tersebut bersifat individual karena sebagian perempuan enggan untuk berbicara tentang ehidupan pribadi mereka sendiri sehingga perlu penggalian secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang menjadi faktor pernikahan dini di lingkungan gernas adalah sosial budaya dimana masih ditemukanya praktik-praktik perjodohan anak ada adanya pemahaman-pemahaman lama tentang pernikahan contohnya penutup malu (passampo siri).
Gambaran Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Di Desa Padang Timur Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar Arfiah Arfiah; Patmawati Patmawati; Afriani Afriani
J-KESMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 4, No 2 (2018): J-Kesmas Volume 4, Nomor 2, Nopember 2018
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jkesmas.v4i2.253

Abstract

STBM adalah pendekatan dengan proses fasilitasi yang sederhana yang dapat merubah sikap lama, kewajiban sanitasi menjadi tanggung jawab masyarakat. Dengan satu kepercayaan bahwa kondisi bersih, nyaman dan sehat adalah kebutuhan alami manusia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pelaksanaan di Desa Padang Timur Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain kuantitatif. Populasi adalah semua kepala keluarga di Desa Padang Timur Kecamatan Campalagian sejumlah 385 kepala keluarga, pengambilan sampel dengan purposive sampling dengan jumlah sampel 80 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan pengambilan data sekunder dan data primer. Analisis data adalah analisis statistik deskriptif untuk melihat gambaran besaran persentase pelaksanaan terhadap STBM. Hasil penelitian menunjukkan gambaran pelaksanaan STBM pada pilar pertama stop buang air besar sembarangan yang terlaksana cukup 51 responden (63,8%), pilar kedua cuci tangan pakai sabun yang terlaksana cukup baik 46 responden (57,5%), pilar ketiga pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga yang terlaksana cukup baik 47 responden (58,8%), pilar keempat pengamanan sampah rumah tangga yang terlaksana cukup baik 21 responden (26,2%), dan pilar kelima pengamanan limbah cair rumah tangga kurang baik yang terlaksana 51 responden (63,8%).Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan STBM di Desa Padang Timur Kecamatan Campalagian masih kurang optimal dalam menjalankan program STBM.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PARITAS TERHADAP KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI DESA KURMA KECAMATAN MAPILLI Sitti Sohora; Afriani Afriani; Anita. S
Journal Peqguruang: Conference Series Vol 3, No 2 (2021): Peqguruang, Volume 3, No.2, Nopember 2021
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jp.v3i2.2776

Abstract

Anemia merupakan kondisi kurangnya kadar hemoglobin darah dimana ibu hamil sudah dikategorikan sebagai kelompok yang beresiko terkena anemia. Pada data kecamatan mapilli bulan november 2020 kasus anemia pada ibu hamil 572 kasus di 12 desa, dan tertinggi ada di Desa Kurma sebanyak 89 kasus, walaupun pada bulan desember turun menjadi 18 kasus namun di bulan januari 2021 bertambah menjadi 35 kasus anemia pada ibu hamil. Jenis penlitian ini survei analitik dengan desain croos  pada 35 ibu hamil di Desa Kurma Kecamatan Mapilli yang diambil dengan total sampling. Analisis data yang digunakan yaitu Uji Chi Square. Hasil menunjukan hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p value=0.020) dan paritas (0.053) terhadap kejadian anemia pada ibu hamil di Desa Kurma Kecamatan Mapilli tahun 2021. Di sarankan kepada iu hamil lebih memperatikan dalam meminum tablet tambah darah (Fe) pada masa kehamilan dan sesudah nifas agar tidak terjadi anemia terhadap ibu.
GAMBARAN PERILAKU IBU HAMIL TERHADAP ANTENATAL CARE (ANC) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAMASA KABUPATEN MAMASA Afriani Afriani; Ramlah Ramlah; Esrianti Esrianti
Journal Peqguruang: Conference Series Vol 8, No 1 (2026): Peqguruang, Volume 8 Nomor 1 Mei 2026
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jp.v8i1.6577

Abstract

Antenatal Care (ANC) adalah layanan kesehatan rutin bagi ibu hamil yang bertujuan memantau kesehatan ibu dan janin, mendeteksi dini komplikasi, serta memberikan edukasi terkait kehamilan, persalinan, dan perawatan bayi.Penelitian ini bertujuan mengungkap gambaran perilaku ibu hamil terhadap layanan Antenatal Care (ANC) di wilayah kerja Puskesmas Mamasa, Kabupaten Mamasa, dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan melibatkan 12 informan. Hasil menunjukkan bahwa rendahnya pengetahuan ibu hamil mengenai ANC dipengaruhi oleh kepercayaan dan praktik budaya lokal, sehingga diperlukan edukasi yang intensif. Sikap terhadap ANC sangat dipengaruhi oleh dukungan keluarga, khususnya suami. Budaya tradisional juga berperan dalam pembentukan perilaku, di mana sebagian ibu masih memandang kehamilan sebagai proses alami tanpa perlu intervensi medis. Selain itu, keterbatasan fasilitas kesehatan dan hambatan transportasi menjadi kendala utama dalam akses layanan, menekankan pentingnya peningkatan infrastruktur dan sistem dukungan kesehatan.Penelitian ini mendorong edukasi berkelanjutan yang peka budaya, peningkatan fasilitas kesehatan, serta dukungan keluarga untuk meningkatkan kepatuhan ibu hamil dalam pemeriksaan kehamilan.
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU IBU TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI DESA BUNTUBUDA Afriani Afriani; Yuliani Soerachmad; Christiadi Pampang Langi
Journal Peqguruang: Conference Series Vol 8, No 1 (2026): Peqguruang, Volume 8 Nomor 1 Mei 2026
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jp.v8i1.6790

Abstract

Stunting saat ini masih menjadi perhatian serius oleh pemerintah. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya rendahnya pengetahuan, sikap dan perilaku ibu terkait pencegahan stunting. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, Kabupaten Mamasa menempati peringkat tertinggi kasus stunting dengan prevalensi sebesar 38.6%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu dengan kejadian stunting di Desa Buntubuda. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel sebanyak 115 orang ibu balita. Analisis data menggunakan uji spearman rank. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden telah berpengetahuan baik yaitu 111 orang (96,5%), sebanyak 84 orang ibu (73%) yang memiliki sikap baik, dan 82 orang (71,3%) yang berperilaku baik. Hasil uji spearman rank menunjukkan nilai p=0,976 > 0,01 yang berarti tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian stunting, sedangkan pada variabel sikap dan perilaku didapatkan nilai p=0,000<0,01 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara sikap dan perilaku ibu dengan kejadian stunting. Oleh karena itu, diharapkan para ibu agar tetap menjaga sikap dan perilakunya terkait upaya pencegahan stunting.
HUBUNGAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI TERHADAP PENYAKIT ISPA PADA PETANI PENYEMPROT PESTISIDA DI DESA SALUASSING Musdalipa Musdalipa; Afriani Afriani; Sulihin Azis
Journal Peqguruang: Conference Series Vol 7, No 2 (2025): Peqguruang, Volume 7 Nomor 2 November 2025
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jp.v7i2.6557

Abstract

Para petani melakukan penyemprotan dua kali dalam seminggu dan lebih dari 18 kali setiap musim tanam. Namun, dalam praktiknya, mereka sering mengabaikan beberapa prosedur, seperti menyemprot di waktu yang tidak tepat, melakukan penyemprotan tanpa memperhatikan arah angin, merokok setelah proses semprot, dan tidak memakai alat pelindung diri. Hal ini terjadi karena kebiasaan mereka yang belum terbiasa menggunakan alat pelindung diri, serta merasa kurang nyaman dan terhambat dalam bergerak saat mengenakannya saat menyemprot pestisida.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan frekuensi kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di kalangan petani penyemprot pestisida di Desa Saluassing. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah potong lintang (cross sectional), dengan melibatkan 157 responden yang keseluruhannya adalah petani di area tersebut. Temuan dari penelitian menunjukkan bahwa faktor usia, pendidikan, dan mayoritas jenis kelamin pria di antara petani penyemprot mempengaruhi tingginya kerentanan terhadap ISPA. Risiko ini semakin meningkat di kelompok petani yang lebih tua dengan tingkat pendidikan rendah, yang tidak memanfaatkan APD secara optimal. Juga ditemukan bahwa penggunaan APD secara lengkap berpengaruh signifikan dalam mengurangi risiko ISPA, di mana frekuensi ISPA lebih tinggi di antara responden yang tidak menggunakan APD secara menyeluruh.