Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika psikososial carok di Madura dengan fokus pada tandha mateh sebagai manifestasi harga diri (ajhâr). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan studi literatur pada artikel jurnal dan buku terbit 2004–2024, dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa tandha mateh bukan rasa malu biasa, melainkan kondisi "kematian sosial" yang dipicu oleh empat faktor: perselingkuhan, penghinaan publik, sengketa tanah, atau gagalnya mediasi adat. Proses menuju carok bersifat bertahap: eskalasi rasa malu (lebbher → nyandhak → tandha mateh), isolasi sosial (ngelingang malo), mimpi sebagai pertandhâ, konsultasi dengan kiai, tekanan kelompok sebaya (cap kole), hingga titik tanpa mundur (bâtal onjhâk). Carok dimaknai sebagai mekanisme restorasi harga diri terakhir ketika jalur damai tidak tersedia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa carok merupakan restorasi kehormatan yang terlembagakan secara kultural, meskipun menimbulkan dualisme sanksi antara adat dan hukum negara. Temuan ini berkontribusi pada psikologi lintas budaya dan memberikan rekomendasi pencegahan konflik berbasis kearifan lokal.
Copyrights © 2026