Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FILSAFAT STATISTIKA BISNIS DI ERA BIG DATA DAN AI: RELASI TRIADIK ONTOLOGI, ETIKA, DAN EPISTEMOLOGIS Harry Yulianto
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 4 (2025): APRIL 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Statistika bisnis di era big data dan AI menghadapi tantangan filosofis multidimensi yang melibatkan ontologi, etika, dan epistemologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis relasi triadik ketiga perspektif melalui pendekatan kritis-filosofis dengan metode hermeneutika dan studi kasus (seperti algoritma rekruitmen, ESG, dynamic pricing). Hasilnya menunjukkan bahwa data bisnis bersifat konstruktif, dipengaruhi bias historis dan kepentingan korporasi, sedangkan praktik etis terhambat oleh ketidaktransparanan algoritma. Epistemologi yang reduksionis mengabaikan kompleksitas kausalitas dan konteks kualitatif. Simpulan riset menekankan pentingnya integrasi refleksi filosofis pada statistika bisnis untuk mencapai keadilan dan keberlanjutan. Rekomendasinya mencakup regulasi transparansi dan adopsi kerangka audit interdisipliner.
Carok, Harga Diri, dan Tandha Mateh: Analisis Dinamika Psikososial Konflik Berbasis Kehormatan Masyarakat Madura Harry Yulianto
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 06 (2026): JUNI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika psikososial carok di Madura dengan fokus pada tandha mateh sebagai manifestasi harga diri (ajhâr). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan studi literatur pada artikel jurnal dan buku terbit 2004–2024, dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa tandha mateh bukan rasa malu biasa, melainkan kondisi "kematian sosial" yang dipicu oleh empat faktor: perselingkuhan, penghinaan publik, sengketa tanah, atau gagalnya mediasi adat. Proses menuju carok bersifat bertahap: eskalasi rasa malu (lebbher → nyandhak → tandha mateh), isolasi sosial (ngelingang malo), mimpi sebagai pertandhâ, konsultasi dengan kiai, tekanan kelompok sebaya (cap kole), hingga titik tanpa mundur (bâtal onjhâk). Carok dimaknai sebagai mekanisme restorasi harga diri terakhir ketika jalur damai tidak tersedia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa carok merupakan restorasi kehormatan yang terlembagakan secara kultural, meskipun menimbulkan dualisme sanksi antara adat dan hukum negara. Temuan ini berkontribusi pada psikologi lintas budaya dan memberikan rekomendasi pencegahan konflik berbasis kearifan lokal.