Cabai rawit (Capsicum frutescens) merupakan komoditas hortikultura strategis yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia, khususnya di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sebagai salah satu sentra produksi utama dengan luas tanam 20.581 hektar dan produksi 21.581 ton. Namun, petani menghadapi berbagai tantangan, terutama serangan penyakit layu Fusarium dan layu bakteri yang mengancam produktivitas dan keberlanjutan usaha tani. Ketergantungan tinggi pada pestisida kimia sintetik yang kurang tepat aplikasi juga memperburuk kondisi agroekosistem dan meningkatkan biaya produksi. Pengabdian masyarakat ini mengimplementasikan pendekatan pengelolaan penyakit terpadu berbasis ekologi melalui pelatihan dan pendampingan kepada anggota Kelompok Tani Harum Tani di Desa Sukoharjo, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban. Materi pelatihan meliputi analisis situasi penyakit, pemanfaatan agens hayati, serta teknik pengelolaan penyakit secara terpadu. Metode pelaksanaan menggunakan sekolah tani dengan pendekatan partisipatif dan pembelajaran eksperiensial. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman petani terhadap gejala penyakit dan teknik pengendalian ramah lingkungan, khususnya penggunaan agens hayati Trichoderma spp. dan Pseudomonas fluorescens. Beberapa petani mulai menerapkan teknik tersebut di lapangan, menandai perubahan perilaku budidaya yang positif. Kendala utama adalah perubahan pola pikir dan ketersediaan agens hayati lokal, yang memerlukan pendampingan berkelanjutan dan dukungan sinergis dari pemerintah serta stakeholder terkait. Pendekatan terpadu ini efektif dalam meningkatkan kapasitas petani dan mendukung produksi cabai rawit yang lebih produktif dan berkelanjutan.Â
Copyrights © 2025