Penelitian ini menganalisis kebertahanan spasial dan fungsional dua puri tradisional di Bali, Puri Agung Peliatan dan Puri Agung Ubud, dalam konteks perkembangan pariwisata dan perubahan sosial ekonomi. Kebertahanan dipahami sebagai kemampuan puri mempertahankan struktur ruang, bentuk fisik, dan fungsi sosial-budaya sekaligus beradaptasi terhadap dinamika zaman tanpa kehilangan nilai signifikansi kulturalnya. Kedua puri dipilih karena memiliki keterkaitan sejarah melalui Kawitan Dalem Sukawati, berada dalam satu kawasan Ubud, serta sama-sama mengalami transformasi menjadi daya tarik wisata budaya sambil tetap difungsikan sebagai hunian penglingsir dan pusat aktivitas adat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan dukungan data kuantitatif terbatas untuk memperkuat penilaian, melalui observasi tata ruang, dokumentasi visual, dan wawancara mendalam dengan keluarga puri, pelaku seni, serta pihak yang terlibat dalam pengelolaan kegiatan wisata. Analisis dilakukan dengan membaca ulang pola spasial puri berdasarkan konsep Tri dan Sanga Mandala, kemudian mengaitkannya dengan pergeseran fungsi ruang akibat pariwisata. Hasil kajian menunjukkan bahwa kedua puri mempertahankan struktur ruang sakral profan dan palebahan utama, sementara perubahan fisik dan fungsi terutama diarahkan ke zona yang sejak awal bersifat lebih profan. Puri tetap berfungsi sebagai hunian, pusat ritual, dan simbol identitas lokal, namun kini juga berperan sebagai panggung seni, ruang ekonomi kreatif, dan ikon wisata. Kebertahanan tersebut dimungkinkan oleh kombinasi kontrol internal keluarga puri, pemaknaan ulang nilai lokal, dan selektivitas dalam membuka ruang bagi wisatawan. Temuan ini menegaskan pentingnya melihat puri bukan sebagai objek pasif pelestarian, tetapi sebagai pelaku yang aktif mengkondisikan perubahan.
Copyrights © 2026