Ni Made Mitha Mahastuti
Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, Jalan Raya Kampus Bukit Jimbaran, Badung, Bali, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

The use of social media in the creation of personal learning environment during the #studyfromhome period Ni Ketut Agusintadewi; Ni Made Mitha Mahastuti; Kadek Agus Surya Darma; Anak Agung Ngurah Aritama
Journal of Education and Learning (EduLearn) Vol 15, No 1: February 2021
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.243 KB) | DOI: 10.11591/edulearn.v15i1.17851

Abstract

Due to the Covid-19 outbreak in Indonesia the Government urged students and lecturers to conduct the learning process from home through an online system called #studyfromhome. The architecture undergraduate students in this study were millennial students who used digital technology on a daily basis. This study was conducted to determine the role of social media, as well as millennial students’ preferences and feedback on the use of social media as learning tools to create a personal learning environment (PLE). Questionnaires were distributed online to students of Class of 2017 and 2018, out of whom 115 respondents provided their feedback. The results of the study showed that the students of the Architecture Study Program at Udayana University in Bali were fond of using social media especially audio-visual applications for learning activities. In addition, very positive feedback was also provided in terms of knowledge sharing and creativity, acquisition of information, and submission of assignments. Social media were considered more student-friendly. This condition was relevant to the characteristics of the millennial students who were independent learners, and facilitated the creation of PLE. Dealing with the new approach, the students hoped that social media could be used in a better manner as architecture learning platforms.
DISAIN FASILITAS PENDUKUNG KAYEHAN DESA ALAS JERINGO DI DESA PEDAWA T. A. Prajnawrdhi; I. N. W. Paramadhyaksa; N. M. M. Mahastuti; M. W. Satria
Buletin Udayana Mengabdi Vol 20 No 1 (2021): Buletin Udayana Mengabdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1053.979 KB) | DOI: 10.24843/BUM.2021.v20.i01.p06

Abstract

Kayehan Desa di Desa Pedawa merupakan sumber air dan fasilitas umum yang dipergunakan oleh seluruh lapisan masyarakt Pedawa. Kayehan desa yang berada pada daerah sumber air ditengah hutan ini memiliki kondisi yang masih belum layak dan susah ditempuh jika musim hujan. Dibawah kegiatan pengabdian masyarakat dalam skema PUU di tahun 2020, salah satu kayehan Desa yang bernama Kayehan Desa Alas Jeringo yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Tulisan ini akan menbahas tentan disain fasilitas pendukung yang dibutuhkan kayehan Desa Alas Jeringo sehingga dapat berfungsi dengan lebih optimal baik di musim kemarau maupun di musim hujan. Metode kualitatif yang melibatkan observasi lapangan, wawancara dan diskusi dipergunakan dalam menghasilkan konsep disain yang sesuai dan merupakan perpaduan dari ide perancang dan mampu mengakomodasi aspirasi masyarakat setempat. Analisis dilakukan dengan menggunakan SWOT analisis. Hasil memunjukkan bahwa disain yang sesuai untuk fasilitas pendukung Kayehan Desa Alas Jeringo ini menggunakan konsep arsitektur tropis dan disain arsitektur yang berkelanjutan sehingga fasilitas ini mampu memberikan keberlanjutan fungsi yang baik dan bisa dipergunakan oleh masyarakat setempat maupun pengunjung yang datang dalam jangka waktu panjang. Terlebih lagi, dengan konsep arsitektur tropis dan berkelanjutan, disain fasilitas penunjang tidak merusak lingkungan sekitarnya.
JEJAK WUJUD ARSITEKTURAL DAN RAGAM HIAS CANDI KURUNG STUDI KASUS: PURA ULUWATU DAN PURA SAKENAN Nyoman Ratih Prajnyani Salain; Ni Made Mitha Mahastuti
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 3 (2022): Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i3.50024

Abstract

This study will discuss the architectural forms and decorations used in the case studies at Uluwatu Temple and Sakenan Temple. The two temples were chosen to be the object of research because they have similar architectural forms and styles although they are not the same as a whole. There are three issues raised, namely analyzing the similarity of shape, form and decoration at Kurung Temple at Uluwatu Temple and Sakenan Temple; the historical connection between the two Kurung Temples; strategies and conservation activities that need to be carried out at Uluwatu Temple and Sakenan Temple.The method used in this research is descriptive qualitative method, with triangulation data collection techniques that combine direct observation, survey and interview techniques. The hope of this research is that the academic community and the general public understand the correlation between architectural forms and decorations in the two Kurung Temples along with their historical values.Keywords:  Architectural Form, Decorative Variety, Kurung Temple, Uluwatu Temple, Sakenan Temple
Modernisasi dan Warisan Budaya: Peran Ganda Bale Banjar dalam Lansekap Perkotaan Kuta Ni Made Mitha Mahastuti; I Made Adhika; Ngakan Ketut Acwin Dwijendra; I Nyoman Susanta
Jurnal Anala Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.13.1.1636.32-41

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Bale Banjar berfungsi sebagai ruang publik yang mendukung interaksi sosial dan pelestarian budaya di tengah arus modernisasi. Latar belakang penelitian ini mencakup tantangan yang dihadapi masyarakat Kuta dalam menjaga warisan budaya mereka di tengah pesatnya perkembangan pariwisata. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi untuk memahami dinamika sosial yang terjadi. Dengan demikian, penelitian ini menyoroti pentingnya peran ganda Bale Banjar dalam mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dengan tuntutan modernitas, serta bagaimana hal ini berkontribusi pada keberlanjutan budaya di Kuta. Penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai bagaimana bale banjar dapat beradaptasi dengan dinamika perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang melekat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernisasi telah mengubah bale banjar dari ruang tradisional menjadi ruang multifungsi yang juga melayani kegiatan ekonomi dan komersial. Meskipun demikian, bale banjar tetap bertahan dengan elemen-elemen budaya tradisionalnya, meski dalam bentuk yang telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat modern. Selain itu juga menunjukkan bahwa Bale Banjar tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai pusat kreativitas dan inovasi budaya. Bale Banjar memainkan peran penting dalam menjaga identitas lokal dengan mengadakan berbagai kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat.
Kebertahanan Spasial dan Fungsional Puri Bali di Era Pariwisata: Analisis Puri Agung Peliatan dan Puri Agung Ubud Nyoman Ratih Prajnyani Salain; Ni Made Mitha Mahastuti
Jurnal Anala Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis kebertahanan spasial dan fungsional dua puri tradisional di Bali, Puri Agung Peliatan dan Puri Agung Ubud, dalam konteks perkembangan pariwisata dan perubahan sosial ekonomi. Kebertahanan dipahami sebagai kemampuan puri mempertahankan struktur ruang, bentuk fisik, dan fungsi sosial-budaya sekaligus beradaptasi terhadap dinamika zaman tanpa kehilangan nilai signifikansi kulturalnya. Kedua puri dipilih karena memiliki keterkaitan sejarah melalui Kawitan Dalem Sukawati, berada dalam satu kawasan Ubud, serta sama-sama mengalami transformasi menjadi daya tarik wisata budaya sambil tetap difungsikan sebagai hunian penglingsir dan pusat aktivitas adat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan dukungan data kuantitatif terbatas untuk memperkuat penilaian, melalui observasi tata ruang, dokumentasi visual, dan wawancara mendalam dengan keluarga puri, pelaku seni, serta pihak yang terlibat dalam pengelolaan kegiatan wisata. Analisis dilakukan dengan membaca ulang pola spasial puri berdasarkan konsep Tri dan Sanga Mandala, kemudian mengaitkannya dengan pergeseran fungsi ruang akibat pariwisata. Hasil kajian menunjukkan bahwa kedua puri mempertahankan struktur ruang sakral profan dan palebahan utama, sementara perubahan fisik dan fungsi terutama diarahkan ke zona yang sejak awal bersifat lebih profan. Puri tetap berfungsi sebagai hunian, pusat ritual, dan simbol identitas lokal, namun kini juga berperan sebagai panggung seni, ruang ekonomi kreatif, dan ikon wisata. Kebertahanan tersebut dimungkinkan oleh kombinasi kontrol internal keluarga puri, pemaknaan ulang nilai lokal, dan selektivitas dalam membuka ruang bagi wisatawan. Temuan ini menegaskan pentingnya melihat puri bukan sebagai objek pasif pelestarian, tetapi sebagai pelaku yang aktif mengkondisikan perubahan.
Implementasi Tri Hita Karana sebagai Upaya Kelola Mutu Taman Harmoni Bukit Asah Bugbug, Karangasem Nyoman Ratih Prajnyani Salain; Ni Made Mitha Mahastuti
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 20, No 1 (2022): Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v20i1.55900

Abstract

Development and management are two factors that influence the existence of a tourist area. Taman Harmoni, located in the Bukit Asah area of Bugbug Village, Karangasem is an area that has been under development and management by the Bugbug Traditional Village Tourism Development Agency (BP2DAB) since 2016. The development carried out by BP2DAB is considered successful in attracting visitors to always come back. Bugbug Village realizes that the potential of nature and culture is a priceless investment and if not managed properly it will harm the lives of future generations. Not only has a negative impact on economic factors, this negligence also causes degradation of natural environmental factors and socio-cultural factors. Tri Hita Karana is one of the local wisdom that teaches about the three causes of happiness or harmony.  BP2DAB makes Tri Hita Karana a concept in managing the Taman Harmoni tourist area. Elements of Tri Hita Karana will be implemented in each of the development factors carried out. The purpose of this paper is to determine the extent to which the implementation of the Tri Hita Karana concept in the management of the Taman Harmoni Bukit Asah tourism object, Bugbug Karangasem. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques through direct observation, interviews, and literature study. The result of this paper is a form of implementation of the elements of Parahyangan, Pawongan and Palemahan in the management of the Taman Harmoni at Bukit Asah Bugbug, Karangasem.