Riset ini berangkat dari kenyataan bahwa fenomena quarter life crisis banyak dijumpai pada individu di masa dewasa awal, tak terkecuali para pekerja yang harus menghadapi beban pekerjaan, kestabilan ekonomi, serta ketidakjelasan arah hidup di masa mendatang. Tujuan penelitian ini adalah mengukur tingkat self efficacy dan tingkat quarter life crisis, sekaligus menguji keterkaitan antara self efficacy dengan quarter life crisis pada karyawan Toko RMJ di Kabupaten Gorontalo. Pendekatan yang digunakan bersifat kuantitatif dengan rancangan korelasional. Responden penelitian berjumlah 50 karyawan yang seluruhnya diikutsertakan melalui teknik total sampling. Data dijaring menggunakan instrumen General Self Efficacy (GSE) yang disusun oleh Schwarzer dan Jerusalem (1995) mengacu pada konsep self efficacy dari Bandura (1977), serta skala Quarter Life Crisis rancangan Robbins dan Wilner (2001) yang dibangun dari sejumlah aspek QLC. Kedua alat ukur tersebut telah teruji valid dan reliabel. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Pearson Product Moment melalui bantuan SPSS 25. Temuan menunjukkan bahwa self efficacy maupun quarter life crisis pada responden sama-sama berada pada kategori sedang. Pengujian hipotesis memperoleh koefisien r = -0,057 dengan taraf signifikansi p = 0,898 (p > 0,05), yang berarti tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara self efficacy dengan quarter life crisis. Hal ini mengindikasikan bahwa munculnya quarter life crisis kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar self efficacy, seperti kondisi ekonomi, beban pekerjaan, dinamika hubungan keluarga, ekspektasi masa depan, dan tekanan dari lingkungan sosial.
Copyrights © 2026